Telaah Singkat Kingdom Animali (Zoologi)
Entomologi (Serangga)
Phylum: Arthropoda (Artropoda)
Class: Insecta (Serangga)
Ordo:
2. Coleoptera (kumbang, kunang-kunang
3. Dermaptera (cocopet,
4. Diptera (lalat rumah, nyamuk
5. Embioptera
6. Hemiptera (kepik, tonggeret, kepik daun, kepinding, anggang-anggang
8. Hymenoptera (semut, lebah, tawon
9. Isoptera (rayap,
10. Lepidoptera (ngengat, kupu-kupu,
11. Mallophaga
12. Mecoptera
13. Neuroptera (serangga tertua dapat melakukan metamorfosisi sempurna
14. Odonata (capung, capung jarum,
15. Orthoptera (belalang, jangkrik, belalang juta
16. Plecoptera
17. Psocoptera (perlu kajian
18. Siphonaptera (pinjal: parasit peminum darah pada mamalia dan aves
19. Strepsiptera
20. Thysanoptera
21. Trichoptera
22. Zoraptera
Serangga dan Tumbuhan.9
HERBOVORY INSECT
Serangga herbivora memiliki arti serangga yang mengeksploitasi bagian-bagian tumbuhan untuk makanan mereka, yang kemudian dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa guild (feeding guild atau functional group).
Kelompok pemakan tumbuhan:
• Chewer (pemakan daun, batang, bunga, pollen, biji,dan akar)
• Miner dan borrer (memakan antar permukaan tumbuhan)
• Gall-former (tinggal dan makan di dalam tumbuhan serta menginduksi produksi reaksi pertumbuhan abnormal pada jaringan tumbuhan)
• Sap-suckers (menyerap cairan tumbuhan).
• Predator dan frugivore (mengkonsumsi bagian reproduksi dari tumbuhan).
Categories of interactions
Herbivora (Fhytophagy) : mengunyah duan, menghisap getah, memakan biji-bijian, dll
Mutualisme Serangga dan tanaman : seperti penyerbukan, tanaman menyediakan nakanan bagi serangga
Antagonisme (- or + ) : yang satu di untungkan satu di rugikann
komensalimse : yang satu dapat menfaat yang lain tidak.
Tes Tulis seputar mikroalga
3. Blooming mikroalga terjadi ketika kondisi lingkungan mendukung pertumbuhan alga secara eksponensial. Faktor utama:
- Ketersediaan nutrisi: seperti nitrogen dan fosfor
- suhu air : suhu air hangat mempercepat pertumbuhan mikroalga
- caha matahari: ketersediaan cahaya matahari yang baik
- ada karbondioksida yang cukup
3.3. Dampaknya apa
- kualitas air menurun
- toksin alga
- gangguan ekosistem
4. cara berbisnis mikroalga agar tidak merugi.
- Untuk memaksimalkan keuntungan, penting untuk melakukan diversifikasi produk. Produk harus pariatif (banyak produk yang di hasilkan.
- memahami pasar dan kebutuhan konsumen
- menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait, seperti lembaga penelitian, industri pengolahan, dan pemerintah, juga dapat membuka peluang pasar yang lebih luas.
10 Hadits Yang Berhubungan Tentang Biologi

a. Larangan Menebang Tumbuhan
Regulasi Pertumbuhan, Transduksi Sinyal dan Mekanisme Transportasi Tumbuhan
Regulasi pertumbuhan tumbuhan, atau hormon tumbuhan, adalah zat yang mengatur pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan.
Berikut Jenis Hormon Tumbuhan yaitu:
Auxin: Mendorong pemanjangan sel dan berperan dalam perkembangan akar serta dominasi apikal.
Gibberellin: Menginduksi pemanjangan sel dan pembelahan sel, serta membantu dalam perkecambahan biji.
Cytokinin: Memfasilitasi pembelahan sel dan menghambat penuaan.
Asam absisat: Mengatur dormansi dan penutupan stomata.
Etilena: Mempercepat pematangan buah dan senescens, serta mempengaruhi pembungaan.
Faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan tumbuhan
Pengaruh lingkungan
Tumbuhan merespons rangsangan lingkungan melalui tropisme (pertumbuhan ke arah stimulus) dan gerakan nasti (respons yang tidak tergantung pada arah stimulus). Fototropisme dan Gravitropisme adalah contoh respons terhadap cahaya dan gravitasi yang melibatkan pengaturan distribusi hormon.
Interaksi Hormon
Hormon-hormon ini berinteraksi satu sama lain untuk mengatur proses seperti pembentukan akar, pertumbuhan tunas, dan pembungaan. Rasio auxin dan sitokinin mempengaruhi diferensiasi organ dalam kultur jaringan.
Transduksi Sinyal
Transduksi sinyal merupakan proses di mana sel menerima, memproses, dan merespons sinyal eksternal melalui jalur molekuler tertentu. Mekanisme ini melibatkan interaksi antara sinyal kimia (seperti hormon atau faktor parakrin) dan reseptor spesifik pada permukaan atau dalam sel. Sinyal dapat bersifat hidrofobik (tidak larut dalam air) atau hidrofilik (larut dalam air), yang menentukan cara masuknya ke dalam sel atau interaksi dengan reseptor.
Reseptor
seperti reseptor yang terhubung dengan G protein atau receptor tyrosine kinase, mengubah sinyal menjadi respon biologis. Aktivasi reseptor memicu produksi second messengers seperti cAMP, inositol triphosphate (IP3), diacylglycerol (DAG), atau ion kalsium (Ca²⁺), yang mengatur berbagai fungsi seluler. Jalur ini berperan dalam proses penting seperti metabolisme, perkembangan embrio, dan respon terhadap stres.
Hormon
termasuk hormon adrenergik yang memengaruhi fungsi tubuh melalui reseptor α dan β, serta mekanisme apoptosis, yaitu kematian sel terprogram yang melibatkan protein caspases. Secara keseluruhan, transduksi sinyal adalah sistem kompleks yang memungkinkan sel untuk beradaptasi, bertahan, dan berkomunikasi dalam lingkungan yang dinamis.
Mekanisme Transportasi Tumbuhan
Mekanisme transportasi tumbuhan adalah proses perpindahan air, mineral, dan nutrisi di dalam tumbuhan untuk mendukung pertumbuhan dan fungsi fisiologisnya.
Transportasi berlangsung pada tiga tingkat yaitu:
Seluler: Penyerapan dan kehilangan air atau zat terlarut pada tingkat sel, seperti pengambilan air dan mineral oleh sel akar. Jarak Pendek: Transportasi antar sel melalui jaringan, seperti perpindahan gula dari sel fotosintetik ke tabung saringan floem. Jarak Panjang: Transportasi melalui xilem dan floem pada seluruh tumbuhan.
Transportasi Seluler:
Pasif: Difusi zat dari konsentrasi tinggi ke rendah. Aktif: Pemindahan melawan gradien konsentrasi menggunakan energi (ATP).
Kotransportasi: Transport protein menghubungkan perpindahan dua zat, seperti ion H⁺ dan nitrat.
Potensial Air:
Pergerakan air tergantung pada kombinasi tekanan fisik dan konsentrasi zat terlarut, disebut sebagai potensial air (Ψ).
Osmosis menjadi mekanisme utama untuk pergerakan air.
Kompartemen Sel: Sel tumbuhan memiliki dinding sel, membran plasma, dan vakuola besar.
Pergerakan zat dapat melalui: Simpas: Jalur di dalam sitoplasma melalui plasmodesmata. Apoplas: Jalur antar dinding sel tanpa memasuki sitoplasma.
Transportasi di Xilem:Air dan mineral bergerak secara bulk flow (aliran massal) akibat tekanan transpirasi (tarikan dari penguapan air di daun). Tekanan akar juga membantu mendorong air ke atas, meskipun terbatas.
Transportasi di Floem (Translokasi): Gula dari daun dipindahkan ke organ penyimpan atau pengguna. Pengangkutan gula melibatkan transpor aktif dan aliran massal.
Asal Usul Kehidupan: yang di jelaskan oleh 4 teori
Berikut beberapa penjelasan sederhana dari empat teori asal-usul kehidupan
1. TEORI ABIOGENESIS (Generatio Spontanea)
- Ide utama: Kehidupan berasal dari benda mati secara spontan.
- Pendukung awal: Aristoteles, yang menyatakan bahwa makhluk hidup bisa muncul tanpa "induk."
Teori Abiogenesis, seperti yang tercermin dari isinya, yang dianut oleh para ilmuwan di masa lalu, termasuk Aristoteles (384-322 SM). Teori ini pertama kali muncul ketika Aristoteles mengamati sepotong daging yang dibiarkan di ruang terbuka. Setelah beberapa waktu, daging tersebut membusuk dan menghasilkan larva lalat (belatung). Berdasarkan pengamatan ini, Aristoteles menyimpulkan bahwa makhluk hidup dapat terbentuk dari benda mati.

Ilustrasi Mikroskop Leeuwenhoek (Sumber: Pinteterst.com)
Kemudian, pada tahun 1677, seorang ilmuwan Belanda bernama Antonie van Leeuwenhoek turut mendukung gagasan ini. Ia menggunakan mikroskop buatannya untuk mengamati air rendaman jerami dan menemukan makhluk renik yang muncul dari rendaman tersebut. Hal ini memperkuat keyakinannya bahwa makhluk hidup dapat berasal dari benda mati. Namun, pada abad ke-19, teori ini dibantah dan tidak lagi diterima.
- Bantahan: Percobaan oleh Francesco Redi dan Lazzaro Spallanzani menunjukkan bahwa kehidupan membutuhkan makhluk hidup lain sebagai sumbernya.
2. TEORI BIOGENESIS
Para ilmuwan seperti Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani, dan Louis Pasteur mengemukakan teori biogenesis, yang menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup lain. Mereka melakukan pengamatan tersendiri yang lebih terorganisir.
Berikut ini adalah penjelasan tentang temuan yang dilakukan oleh masing-masing ilmuwan ini.
a. Eksperimen Francesco Redi
Francesco Redi adalah seorang ahli biologi dan dokter yang menjadi orang pertama yang melakukan percobaan untuk membantah teori abiogenesis. Redi melakukan percobaan dengan memasukkan daging ke dalam dua buah toples: satu yang tertutup dan satu lagi yang terbuka.
![]() |
| Percobaan Francesco Redi (Sumber: timetoast.com; Ruangguru.com) |
Setelah observasi selama beberapa hari, larva muncul di daging dalam toples yang terbuka, sementara daging di toples yang tertutup bersih.
Setelah itu, Redi sampai pada kesimpulan bahwa belatung berasal dari lalat-lalat yang masuk ke dalam toples dan bertelur di sana. Dia terus melakukan percobaan untuk memperkuat kesimpulan ini.
Dia membuat tutup dari kain kasa untuk toples yang digunakan. Hal ini dilakukan untuk memungkinkan udara dari luar masuk dan menyebabkan pembusukan daging. Namun, lalat tidak dapat masuk, yang mencegah telur lalat muncul. Hasilnya daging membusuk, dan tidak ada larva yang tumbuh.
b. Eksperimen Lazzaro Spallanzani
Lazzaro Spallanzani adalah seorang ilmuwan dan ahli fisiologi Italia. Spallanzani berusaha membuktikan bahwa munculnya organisme berasal dari organisme lain yang hidup, sesuatu yang hampir mirip dengan upaya Redi. Pengujian Stallanzani dilakukan dengan memanaskan air kaldu (rebusan daging) di dua tempat.
![]() |
Percobaan Lazzaro Spallanzani (Sumber: timetoast.com; Ruangguru.com) |
Setelah dipanaskan, setiap wadah diletakkan dalam kondisi yang berbeda. Wadah pertama ditutup, sedangkan yang kedua dibiarkan terbuka.
Setelah didiamkan beberapa hari, air kaldu di wadah yang terbuka menjadi keruh dan bau busuk, sementara air kaldu di wadah yang tertutup tetap jernih. Itu mungkin? Ini disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme dari udara bebas.
b. Eksperimen Louis Pasteur
Teori Abiogenesis masih dianggap valid meskipun telah dilakukan penelitian oleh Redi dan Spallanzani. Mereka yang mendukungnya menentang kesimpulan Spallanzani dan berpendapat bahwa mikroorganisme tidak dapat tumbuh karena tidak ada udara karena udara adalah bagian penting dari kehidupan. Sampai akhirnya, percobaan Spallanzani telah diperbaiki oleh ahli biokimia Prancis Louis Pasteur, yang mematahkan teori abiogenesis.
![]() |
| Ilustrasi oleh Megan Whitaker (Sumber: Ruangguru.com) |
Omne ovum ex vivo: berarti bahwa semua telur berasal dari makhluk hidup.
omne vivum ex vivo: Semua makhluk hidup berasal dari makhluk hidup.
Anda juga pasti setuju dengan teori penelitian Pasteur. Namun, bagaimana jika pertanyaannya diubah menjadi: Jika setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup lainnya, bagaimana cara makhluk hidup pertama lahir?
3. TEORI EVOLUSI KIMIA
Apakah pertanyaan tentang asal-usul kehidupan telah terjawab setelah Louis Pasteur yang mematahkan Teori Abiogenesis? ternyata belum cukup. Nyatanya para ilmuwan terus berpikir dan membuat teori baru. berikut ini ada teori Neo Biogenesis.
Teori Evolusi Kimia atau Neo Biogenesis Theory, mengatakan bahwa senyawa organik adalah sumber makhluk hidup. Teori ini berasal dari hipotesis Oparin dan Haldane pada tahun 1920.
Keduanya berpendapat bahwa banyak molekul sederhana terdapat di laut yang baru terbentuk. Molekul-molekul yang lebih kompleks terbentuk dari molekul sederhana ini, yang merupakan cikal-bakal munculnya kehidupan. Tapi teori ini masih belum dibuktikan.
Teori tersebut baru dapat disempurnakan oleh Harold Urey dan muridnya Stanley Miller pada tahun 1953. Mereka melakukan eksperimen dengan membuat atmosfer bumi kuno dengan campuran gas seperti metana, amonia, hidrogen, dan uap air.
Percobaan ini menghasilkan kesimpulan bahwa terbentuknya makhluk hidup dari senyawa organik sangat mungkin terjadi; namun, proses ini membutuhkan jutaan tahun untuk mencapai penciptaan makhluk hidup yang paling sederhana.
4. TEORI PANSPERMIA
Selanjutnya, pada abad ke-19, para ilmuwan antariksa mengembangkan teori-teori baru tentang asal-usul kehidupan, seperti teori Panspermia, teori eksogenesis, dan teori kosmos.
![]() |
Ilustrasi Luar Angkasa (Sumber: Kompas. Com) |
Namun, karena belum ada cara untuk membuktikan teori ini, banyak orang berpendapat bahwa Teori Panspermia ini tidak bisa dianggap sebagai hipotesis bahkan jika itu adalah teori.
Faktor Abiotik Dan Biotik.6
AKTOR YANG MEMPENFARUHI SERANGGA
- Salah satu faktor utama adalah kompetisi antar serangga dalam memperebutkan sumber nutrisi, ruang hidup, dan pasangan untuk keberhasilan reproduksi.
- Selain itu, faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, cahaya, dan media seperti tanah dan bebatuan juga berperan penting dalam menentukan struktur komunitas serangga.
- Di sisi lain, interaksi dengan manusia turut memberikan pengaruh besar pada populasi serangga, terutama melalui berbagai upaya manusia dalam mengendalikan atau membasmi serangga di daerah tertentu, yang dapat menyebabkan perubahan signifikan pada keberadaan dan keseimbangan koloni serangga.
FAKTOR ABIOTIK
Suhu
- Suhu memainkan peran penting dalam mempengaruhi berbagai aktivitas serangga dan komunitasnya.
- Pada umumnya, serangga tidak dapat bertahan hidup (mati) pada rentang suhu antara 40-60°C, meskipun efek kematian ini juga dipengaruhi oleh durasi paparan terhadap suhu tinggi tersebut.
- Serangga memiliki plastisitas adaptif yang memungkinkan mereka untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, sehingga mereka mampu memperluas batas toleransi suhu mereka. Proses ini dapat didukung oleh fenomena pemanasan global, seperti yang terjadi pada serangga Helicoverpa armigera.
- Di wilayah beriklim sedang, suhu minimum selama musim dingin menjadi faktor penentu yang membatasi penyebaran serangga ke arah utara.
Toleransi serangga terhadap pemanasan global Carlos García-Robledo, Erin K. Kuprewicz, Charles L. Staines, Terry L. Erwin, W. John Kress Prosiding Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Januari 2016, 113 (3) 680685; DOI:10.1073/pnas.1507681113
- Suhu sangat memengaruhi berbagai aktivitas serangga, termasuk makan, pertumbuhan, dan reproduksi.
- Laju perkembangan serangga sangat bergantung pada suhu, di mana perkembangannya hanya dapat terjadi di atas titik nol biologis atau suhu ambang perkembangan.
- Pada spesies serangga yang hidup di daerah beriklim sedang, diperlukan tahap perkembangan khusus yang memungkinkan mereka untuk bertahan dalam kondisi musim dingin yang panjang dan dingin. Adaptasi ini sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup serangga dalam lingkungan yang mengalami perubahan suhu musiman ekstrem.
gambar contoh
Kelembapan
- Kelembapan merupakan faktor lingkungan penting bagi serangga dan bergantung pada jenis biotope tempat mereka hidup.
- Kelembapan ini bisa berupa kelembapan relatif: seperti udara, kelembapan tanah, atau kandungan air pada tanaman dan bagiannya.
- Ada spesies euryhygric yang mampu menoleransi berbagai tingkat kelembapan, serta stenohygric yang memiliki toleransi lebih terbatas. Sebagai contoh, kumbang kentang yang berasal dari lingkungan semi-kering mampu bertahan meski kehilangan hingga 50% kadar air dalam tubuhnya.
- Kelembapan juga memengaruhi perilaku serangga dalam berbagai situasi. Serangga yang melewati musim dingin dalam fase dewasa cenderung muncul lebih awal jika kondisi tanah kering atau berlapis serasah, sedangkan wireworm dapat bergerak lebih lambat di tanah basah.
- Pada banyak jenis serangga, perkembangan embrio hanya bisa dimulai setelah telur menyerap udara. Contohnya, hal ini terjadi pada may-beetle dan rape saw-fly.
- Kelembapan udara yang berlebihan dapat berbahaya bagi serangga; misalnya, larva muda kumbang kentang mengalami kematian hingga 60% akibat curah hujan tinggi. Menariknya, kumbang kentang dewasa mampu bertahan hingga dua minggu dalam kondisi udara lembap.
- Efek kelembapan, bersamaan dengan suhu, memiliki efek besar pada laju perkembangan dan reproduksi serangga; misalnya, tungau memerlukan kelembapan sekitar 13% untuk reproduksi optimal.
Cahaya
Cahaya merupakan sumber energi utama dalam ekosistem alami, dengan radiasi matahari sebagai faktor dominan yang memengaruhi kehidupan serangga. Terdapat beberapa parameter cahaya yang penting bagi serangga, meliputi:
- intensitas cahaya;
- posisi matahari di langit;
- panjang gelombang atau warna cahaya;
- polarisasi;
- durasi penyinaran.
Masing-masing aspek ini dapat memengaruhi perilaku dan aktivitas serangga, termasuk orientasi, waktu beraktivitas, dan pola migrasi. Respons serangga terhadap cahaya sangat penting bagi interaksi mereka dengan lingkungan, membantu mereka menemukan sumber makanan, mencari pasangan, dan menghindari predator.
Intensitas Cahaya
- Intensitas cahaya memainkan peran penting dalam kehidupan serangga dan dapat berdampak buruk bagi spesies yang hidup di lingkungan gelap, seperti tanah atau gua, karena mereka rentan terhadap radiasi sinar ultraviolet dari matahari.
- Tingkat intensitas cahaya memengaruhi aktivitas serangga, baik yang beraktivitas pada malam hari (nokturnal) maupun pada siang hari (diurnal).
- Sebagai contoh: serangga diurnal seperti cockchafer Eropa (Melolontha melolontha) memiliki ritme eksogen yang dipicu oleh perubahan cahaya saat senja. Sementara itu, beberapa serangga lain seperti ngengat selentingan Eropa (Lobesia botrana) memiliki ritme endogen, yang diatur oleh jam internal mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk beraktivitas pada waktu yang tepat sesuai kebutuhan biologisnya.
Posisi Cahaya Matahari di Langit
- Posisi matahari di langit memiliki peran penting dalam orientasi spasial berbagai serangga.
- Beberapa serangga menunjukkan fototaksis, yaitu respons positif atau negatif terhadap cahaya, yang membuat mereka bergerak menuju atau menjauhi sumber cahaya. Fenomena ini dimanfaatkan dalam perangkap cahaya, seperti yang digunakan untuk menangkap penggerek Eropa.
- Selain itu, serangga lain seperti kumbang kentang menggunakan posisi matahari untuk orientasi saat mencari tanaman pangan, selalu bergerak dengan sudut tertentu terhadap cahaya.
- Lebah madu memanfaatkan cahaya dalam orientasi kompleks di dalam sarang gelap. Dengan mengandalkan jam internal mereka, lebah dapat menentukan sudut antara sarang, arah cahaya, dan jalur penerbangan, yang terlihat dalam tarian mengibas mengibas-ngibaskan ekor (waggle dance), sebagai cara mereka berkomunikasi tentang lokasi sumber makanan di luar sarang.
Panjang Gelombang Cahaya
- Penglihatan warna pada serangga menunjukkan perbedaan yang signifikan antara spesies. Misalnya, lebah madu mampu melihat sinar ultraviolet sebagai warna, namun tidak dapat mengenali warna merah.
- Panjang gelombang cahaya sangat memengaruhi perilaku serangga, terutama dalam interaksi mereka dengan lingkungan. Hal ini dimanfaatkan dalam perangkap warna, di mana warna tertentu menarik serangga tertentu: lempeng kuning efektif menarik lalat putih, sementara lempeng biru menarik kutu daun dan thrips.
- Adaptasi ini memudahkan serangga untuk mengenali bunga, sumber makanan, atau tempat perlindungan tertentu sesuai dengan warna atau panjang gelombang yang mereka tangkap.
Sensitivitas spektral pada manusia dan serangga.(a). Sensitivitas spektral fotoreseptor peka warna biru (S, panjang gelombang pendek), hijau (M, panjanggelombang sedang), dan merah (L, panjang gelombang panjang) pada manusia yangdisajikan sebagai dasar kerucut 10°, dihitung dari Stiles dan Burch (1959) fungsi pencocokanwarna (Stockman & Sharpe, 2000; (www.cvrl.org/).
(b). Fungsi luminositas manusia, digunakan untuk memprediksi "kecerahan" relatif sebagaimana dirasakanoleh manusia.
(c). Sensitivitas spektral fotoreseptor pekerja lebah madu (Briscoe & Chittka, 2001; dimodifikasidari Peitsch dkk., 1992).
(d). Elektroretinografi pada kunang-kunang Big Dipper jantan Photinus pyralis menunjukkan bahwa spesies inimungkin telah kehilangan opsin yang sensitif terhadap panjang gelombang pendek (dimodifikasi dariLall, Chapman, Ovid Trouth 10/16/23 , & Holloway, 1980).
Polarisasi Cahaya
- Cahaya adalah gelombang elektromagnetik dengan berbagai sifat, salah satunya adalah polarisasi, yaitu arah getaran osilasi cahaya yang dapat berubah karena partikel padat di atmosfer dan tergantung pada posisi matahari di langit.
- Polarisasi cahaya ini dapat dilihat oleh serangga sosial, yang memanfaatkannya untuk orientasi bahkan dalam kondisi cuaca yang kurang mendukung, saat arah cahaya tidak dapat digunakan secara langsung.
- Kemampuan untuk mendeteksi polarisasi memungkinkan serangga sosial, seperti lebah, untuk tetap menavigasi dengan akurat dalam mencari sumber makanan atau kembali ke sarang, sehingga menjaga efektivitas perilaku mereka dalam berbagai kondisi lingkungan.
Penyinaran Cahaya
- Durasi periode terang (fase foto) dan gelap (fase skotofase) dalam satu hari memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan spesies, terutama di daerah beriklim sedang.
- Variasi durasi ini dapat menyebabkan perubahan morfologi yang signifikan pada beberapa organisme. Sebagai contoh, pada jangkrik (Euscelis plebujus), fase penyinaran yang berlangsung selama 16 jam atau lebih menghasilkan individu dengan sayap yang lebih panjang (forma plebejus), sementara fase penyinaran yang lebih pendek, di bawah 16 jam, akan menghasilkan jangkrik dengan tubuh yang lebih pendek dan tahan terhadap kondisi tertentu (forma incises). Perubahan ini menunjukkan bagaimana durasi cahaya dapat mempengaruhi evolusi morfologi spesies.
Sedang (medium)
- Kedua media, udara dan tanah, memiliki dampak yang signifikan terhadap komunitas serangga.
- Udara: berfungsi sebagai ruang sementara bagi serangga, tempat mereka sering muncul. Namun, serangga kecil cenderung tidak memanfaatkan arus udara hangat di atmosfer.
- Perubahan tekanan udara juga mempengaruhi perilaku serangga, dengan banyak serangga bersembunyi ketika cuaca menjadi berangin.
- Serangga yang mampu terbang biasanya terbang melawan angin atau terbawa oleh angin, tergantung pada kekuatan dan arahnya.
- Sementara itu, tanah juga berperan penting dalam kehidupan serangga, dengan parameter fisik dan kimiawi tanah mempengaruhi keberadaan mereka. Misalnya, Agriotes spp. (wireworm) lebih menyukai tanah dengan pH antara 4,0-5,5.
- Bahan organik di tanah menjadi sumber makanan yang penting bagi ulat cockchafer dan wireworm pada tahap awal larvanya.
- Kandungan CO2 di tanah juga mempengaruhi keberadaan serangga lainnya, seperti larva Melolontha melolontha yang dapat bertahan hidup hingga satu bulan di tanah yang jenuh dengan CO2.
-Aspek fisik tanah juga mempengaruhi kehidupan serangga tanah, contohnya Zabrus tenebrioides, yang tidak dapat hidup di tanah berpasir gembur karena larvanya membutuhkan lempung untuk membuat tabung vertikal di dalam tanah.
Faktor Antropogenik
- Faktor antropogenik mencakup semua dampak yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang mampu mengubah komposisi habitat spesies serta komunitas biotik, sering kali lebih besar dari perubahan alami populasi di planet ini.
Salah satu contohnya adalah perubahan flora alami melalui penggundulan hutan skala besar untuk membuka lahan bagi produksi tanaman.
- Teknologi dalam produksi dan perlindungan tanaman, seperti: kebijakan penggunaan pestisida termasuk DDT, juga memainkan peran besar dalam perubahan ini. S
- Selain itu, pembangunan habitat buatan menciptakan peluang bagi spesies sinantropis hewan yang hidup dekat manusia seperti kecoak dan hama produk simpanan untuk berkembang biak.
- Perpindahan spesies yang disengaja maupun tidak disengaja, baik spesies yang bermanfaat maupun berbahaya, turut memperkenalkan musuh alami dari hama baru, meskipun upaya ini kadang berhasil dan kadang gagal.
- Beban lingkungan akibat polusi yang dihasilkan manusia, termasuk seperti: bahan organik, anorganik, sintetis, dan radioaktif, semakin memperburuk dampak pada habitat dan komunitas biotik yang ada.
FAKTOR BIOTIK
Faktor biotik adalah faktor-faktor yang timbul dari interaksi dalam komunitas serangga serta dipengaruhi oleh kondisi internal serangga itu sendiri. Faktor ini meliputi:
- ketersediaan sumber makanan, yang sangat memengaruhi kelangsungan hidup dan reproduksi serangga.
- ada efek homotipal, yaitu dampak yang muncul akibat interaksi antara individu serangga dari spesies yang sama, seperti kompetisi atau perilaku sosial yang mempengaruhi struktur populasi.
- efek heterotipal terjadi melalui interaksi antara serangga dengan spesies yang berbeda, termasuk predasi, parasitisme, atau mutualisme, yang semuanya berperan dalam mengatur keseimbangan populasi dan dinamika ekosistem.
Sumber Makanan
Makanan merupakan elemen utama dalam mempertahankan keberlanjutan komunitas serangga, karena jenis dan ketersediaannya memengaruhi cara hidup serta struktur komunitas serangga.
Terdapat berbagai pola makan pada serangga, yaitu:
- hylophagous: di mana serangga mengonsumsi bahan organik yang membusuk, seperti daun-daun mati atau kayu lapuk.
- necrophagous, yang memakan bahan zoogenik atau hewan yang telah mati.
- saprofag: mengonsumsi bahan fitogenik yang mati, seperti bagian tumbuhan yang telah rusak atau mati.
- jenis coprophagous: serangga pemakan kotoran hewan yang lebih tinggi, contohnya tumblebug yang menggulung kotoran untuk dijadikan sumber makanannya.
- Setiap kelompok ini memainkan peran penting dalam siklus dekomposisi dan keseimbangan ekosistem.
Sumber makanan merupakan faktor penting dalam kehidupan dan kelangsungan komunitas serangga, di mana berbagai jenis serangga memiliki pola makan yang berbeda.
- Serangga biophagous, misalnya, memakan bahan organik hidup, yang terdiri dari:
- phytophagous (herbivor) yang memakan tumbuhan
- zoophagous (karnivora) yang memangsa hewan hidup. Di antara zoophagous, terdapat:
- parasit yang hidup pada hewan tingkat tinggi tanpa membunuh inangnya;
- parasitoid yang hidup pada spesies yang lebih tinggi dan akhirnya membunuh inangnya;
- predator atau episite yang membunuh dan memakan sebagian atau seluruh bagian mangsanya.
Dari perspektif hama, serangga dapat dibedakan berdasarkan kespesifikannya seperti:
- hama monofagus yang hanya memakan satu spesies tumbuhan, Ex: kumbang kacang - Bruchus pisorum
- hama oligofagus yang lebih suka tumbuhan dari famili tertentu, Ex: kumbang kentang - Leptinotarsa decemlineata
- hama polifag yang mampu memakan berbagai spesies tanaman, Ex: Noctua- Agrotis segetum, Agriotes spp. (wireworm), Melolontha spp.
- hama pantofag yang mampu memakan bahan organik hidup dan mati dari berbagai sumber, seperti kecoa- Blatta spp.
- Serangga spesialis, yaitu serangga dengan kisaran sumber makanannya sempit, dan populasinya akan sangat dipengaruhi jika makanan tersebut tidak ada.
- serangga oportunis, merupakan serangga dengan kisaran sumber makanan yang luas, dan masih bisa bertahan hidup walau ada satu jenis atau sumber makanan yang tidak ada
- Mengubah sumber makanan --> adalah fenomena ketika tahap perkembangan dari spesies serangga yang sama akan tetapi sumber makanannya berbeda pada siklus yang berbeda, mis. Ichneumons adalah bersifat parasitoid pada saat larva, akan tetapi memakan serbuk sari dan nektar bunga pada saat dewasa.
- Parameter makanan dapat mempengaruhi keefektifan reproduksi, jumlah keturunan dan pertumbuhan dan perkembangannya misalnya. dalam kasus kumbang Lamellicorn (stag-beetle), menjadi lebih sedikit, dewasa yang lebih kecil dan tidak subur apabila memiliki makanan yang tidak tepat.
- Kuantitas dan kualitas makanan dapat mempengaruhi perkembangan serangga mis. dalam kasus lebah, larva yang diberi asupan makanan bergizi akan berkembang baik menjadi ratu, tetapi larva yang kurang makan berkembang menjadi lebah pekerja.
- Serangga betina umumnya membutuhkan makanan yang lebih banyak dan lebih berkualitas daripada serangga jantan.
Efek homotipe
Dalam komunitas serangga, terdapat dua fenomena yang memengaruhi dinamika populasi spesies yang sama.
- Pertama, ketika jumlah individu dalam populasi terlalu tinggi, populasi tersebut dapat mengalami penurunan akibat wabah atau kondisi lingkungan yang tidak mampu lagi menampung jumlah serangga tersebut.
- Kedua, apabila jumlah betina terlalu sedikit, maka sebagian jantan akan kesulitan menemukan pasangan, yang berujung pada penurunan populasi karena jumlah keturunan yang dihasilkan menjadi terbatas.
- Selain itu, beberapa spesies serangga memerlukan kontak langsung dengan kelompoknya untuk bertahan hidup atau melakukan migrasi, seperti efek kelompok pada belalang yang bergerombol saat bermigrasi.
- Interaksi kompetisi juga terjadi dalam komunitas serangga, baik antar individu dari spesies yang sama (kompetisi intraspesifik) maupun antar spesies berbeda (kompetisi antarspesies). Kompetisi ini terjadi ketika dua individu atau spesies saling bersaing memperebutkan sumber daya yang terbatas, seperti makanan, wilayah, atau udara, dan dapat mempengaruhi kebugaran atau peluang kelangsungan hidup salah satu pihak.
Efek heterotipikal
- Efek heterotipikal menggambarkan interaksi antara spesies berbeda yang hidup berdampingan dalam suatu habitat dan saling memengaruhi.
- Salah satu bentuknya adalah probiosis, yaitu hubungan antara dua organisme yang saling mendukung proses kehidupannya, seperti lebah dan tanaman berbunga yang saling membantu dalam proses penyerbukan dan produksi makanan.
- Parabiosis, di sisi lain, melibatkan dua organisme di mana hanya satu yang mendapat manfaat, sementara yang lain tidak terpengaruh, seperti dalam kasus komensalisme antara kumbang biji kubis (Ceutorhynchus obstrictus) dan pengusir hama Dasineura brassicae.
- Bentuk lain dari interaksi ini ada:
- simbiosis, di mana hubungan antarspesies berlangsung lama dan biasanya menguntungkan kedua pihak.
- Misalnya, dalam symfilia, serangga sosial seperti semut melindungi kutu daun sebagai imbalan dari sekresi manis yang dihasilkan kutu tersebut.
Ada juga hubungan yang merugikan salah satu pihak, seperti:
- Antibiosis, di mana interaksi ini dapat menekan atau membahayakan salah satu spesies.
- Salah satu contohnya adalah predasi, ketika predator memburu dan memakan mangsanya hingga menyebabkan kematian pada mangsa tersebut, seperti tawon yang memangsa lebah.









.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




.jpeg)












