Berbagi ilmu... Ilmu untuk semua...

Karakteristik Perkembangan: Masa Dewasa

Oleh: Rohim

(Mahasiswa Sem 5 Biologi UIN Bandung)

Setelah melewati masa remaja, seseorang memasuki fase dewasa yang mencakup dewasa awal dan dewasa tengah. Dewasa awal biasanya berlangsung antara usia 21 atau 22 hingga sekitar 40 tahun, sementara dewasa tengah berada di rentang usia 40 hingga 60 tahun. Dalam hal beragama, individu yang memasuki masa dewasa diharapkan mengikuti pola psikologis orang dewasa yang beragama dengan kesadaran yang lebih mendalam.

Masa dewasa, menurut beberapa ahli, merupakan fase transisi pertengahan hidup atau "mid-life transition". Pada tahap ini, masa kehidupan yang diibaratkan sebagai “musim panas” telah berakhir, dan “musim gugur” dimulai. Orang-orang yang peka terhadap perkembangan dirinya mungkin akan mulai mempertanyakan perjalanan hidupnya, seperti "Sudah berapa lama aku hidup, dan berapa lama lagi aku akan hidup?"

Di fase ini, individu diharapkan menunjukkan tanda-tanda kedewasaan, seperti ketenangan, konsistensi, serta kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak, baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya. Dalam aspek keluarga dan sosial, mereka seharusnya siap membina rumah tangga, membimbing generasi penerus, dan menerima tanggung jawab kewarganegaraan yang sesuai dengan hukum dan norma masyarakat.

  1. Dalam menjalankan agama, seharusnya mereka mengikuti pendekatan psikologis yang lazim di kalangan orang dewasa beragama. Dalam hal ini, perlu dipahami bahwa mereka nantinya diharapkan untuk:menerima kebenaran agama dengan pemikiran yang matang, bukan sekadar mengikuti secara buta tanpa pemahaman yang mendalam;
  2. menerima ajaran agama tidak hanya untuk dipelajari dan dipahami, tetapi juga diterapkan dalam pola pikir, sikap, dan perilaku sehari-hari, sehingga ajaran tersebut menjadi pedoman nilai yang membimbing hidupnya;
  3. memiliki wawasan luas dan bersikap terbuka dalam menghargai perbedaan pemahaman agama, namun tetap kritis terhadap berbagai perbedaan tersebut.

Share:

Perkembangan Peserta Didik: Masa Remaja


 Oleh: Rohim 

(Mahasiswa Biologi UIN Bandung)

Setelah menyelesaikan tahap perkembangan di usia MI/SD, anak memasuki fase perkembangan remaja yang berkisar pada usia 12 hingga 21 atau 22 tahun. Setelah itu, masa perkembangan berlanjut ke fase dewasa, yang berlangsung dari usia 22 hingga sekitar 40 tahun. 

Remaja yang duduk di tingkat SMP atau MTs umumnya berada dalam fase perkembangan remaja awal, atau biasa disebut ABG (anak baru gede), yang meliputi usia 12 hingga 15 tahun. Pada tahap ini, perubahan fisik remaja menjadi semakin jelas dan berbeda, dengan ciri-ciri unik yang membedakan mereka satu sama lain. Misalnya, peserta didik yang berbakat dengan tubuh tinggi besar dan hidung mancung akan semakin menunjukkan ciri khasnya pada fase ini, di mana perubahan fisik tersebut menjadi lebih nyata.

Beberapa ciri fisik khas pada remaja MTs/SMP antara lain adalah pertumbuhan rambut atau bulu di sekitar kemaluan dan ketiak, perubahan suara bagi laki-laki, dan perkembangan payudara serta pinggul bagi perempuan. Tanda fisik ini muncul pada usia yang bervariasi; ada yang mengalaminya lebih awal, sekitar usia 12 atau 13 tahun, sementara yang lain baru mengalaminya di usia yang lebih tua. Menurut Piaget (dalam Syah, 2019) selain perkembangan fisik, inteligensi remaja MTs/SMP juga lebih maju dan komprehensif dibandingkan dengan anak MI/SD, karena mereka sudah mencapai tahap perkembangan kognitif yang disebut formal-operational. Di fase ini, otak mereka mendekati tahap kematangan optimal, bahkan beberapa remaja memiliki berat otak yang mendekati atau sudah mencapai rata-rata berat otak orang dewasa, seiring perkembangan otak yang mencapai 90% hingga 100% antara usia 12 hingga 20 tahun.

Share:

Perkembangan Peserta Didik: Sebelum Remaja

 Oleh: Rohim 

(Mahasiswa Biologi UIN Bandung)

Perkembangan sebelum remaja melibatkan beberapa tahap yang penting, secara umum terdapat beberapa tahapan yang bisa dijadikan acuan. Perkembangan fisik meliputi pertumbuhan tinggi dan berat badan, serta perkembangan organ-organ seperti otak, jantung, dan paru-paru. Perkembangan motorik mencakup kemampuan bayi untuk menggerakkan tubuhnya, mulai dari mengangkat kepala hingga berjalan. Perkembangan kognitif memungkinkan bayi belajar, mengingat, dan memecahkan masalah. Selain itu, perkembangan sosial dan emosional membantu bayi berinteraksi dengan orang lain, menunjukkan emosi, serta membentuk ikatan. Ciri khas atau karakteristik  perkembangan menurut Geitman, 1986 (dalam Syah, 2019), adalah progresive dalam arti tumbuh dan berkembang semakin maju. Perkembangan peserta didik sebelum remaja menurut syah (2019) dalam bukunya terdiri dari masa bayi, masa pra-sekolah dan masa sekolah.

Masa Bayi
Masa awal kehidupan bayi terbagi dalam masa perinatal dan masa neonatal. Masa perinatal hanya berlangsung singkat, yaitu sekitar 15-30 menit pertama setelah lahir, sedangkan masa neonatal dimulai dari pemotongan tali pusat hingga bayi berusia dua minggu. Bayi baru lahir umumnya memiliki berat sekitar 3,5 kg dan panjang sekitar 50 cm dengan proporsi tubuh yang belum ideal, di mana kepala mencapai 25% dari panjang tubuhnya. Aktivitas bayi pada masa ini masih sangat sederhana, berupa respons refleks tanpa kesadaran seperti tersenyum, mengisap jari, dan menangis. Tangisan bayi berfungsi penting dalam mengembangkan paru-paru dan menyediakan oksigen bagi darah. Selama tahun pertama, perkembangan fisik bayi sangat cepat, terutama dalam pertumbuhan otak yang mencapai sekitar 25% dari berat otak orang dewasa pada usia sembilan bulan dan mendekati 75% pada usia dua tahun. Perkembangan inteligensi bayi mulai terlihat sejak tahun pertama, ditandai dengan kemampuan duduk, merangkak, berdiri, dan berbicara. Pada umumnya, bayi normal mulai bisa berjalan di usia 12-15 bulan, sementara bayi dengan kecerdasan rendah mungkin baru bisa berjalan pada usia 30 bulan atau bisa mungkin bisa  lebih, meskipun kakinya tampak normal. Secara emosional, bayi cenderung impulsif dan bereaksi terhadap rasa suka atau tidak suka terhadap rangsangan di sekitarnya. Ia akan tersenyum dan tenang saat kenyang dan nyaman, serta menangis bila lapar atau merasa tidak nyaman.

Masa Pra-Sekolah (TK) & Masa Sekolah (SD)
Pada fase perkembangan pra-sekolah (fase TK) berlangsung antara usia 2-6 tahun, anak mulai menyadari identitas gender dan mengalami pertumbuhan fisik yang pesat. Di usia 3 tahun, berat badan mereka mencapai 10-13 kg dengan tinggi sekitar 80-90 cm. Pada usia 6 tahun, berat otak anak telah mencapai 90% dari berat otak orang dewasa. Menurut Piaget, inteligensi anak usia pra-sekolah berada dalam periode pra-operasional, di mana anak belum mampu melakukan operasi mental secara logis, tetapi sudah memiliki kemampuan berimajinasi, seperti dalam bermain peran. Emosi anak di usia ini juga berkembang, ditandai dengan kesadaran diri yang semakin tinggi dan munculnya perasaan harga diri. Perasaan ini terus berkembang untuk mempertahankan ke-aku-annya, sehingga ia diliputi oleh perasaan khas yang sebelumnya tidak ia alami. perasan-perasaan Ini meliputi:
  1. takut, yakni perasaan terancam oleh sesuatu yang membahayakan;
  2. cemas, yakni perasaan takut karena fantasi/khayalannya sendiri;
  3. marah, yakni perasaan benci yang diekspresikan dengan kata-kata atau perbuatan kasar terhadap orang, barang, atau keadaan yang dianggap mengganggu;
  4. cemburu, yakni perasaan tidak senang atau iri kepada orang yang dipandang akan merebut perhatian atau kasih sayang, misalnya iri kepada kakak atau adiknya;
  5. gembira, yakni perasaan senang atau nyaman karena keinginannya terpenuhi; 
  6. cinta kasih/kasih sayang, yakni perasaan senang dan rela memberikan perhatian, perlindungan, dan kenyamanan tidak hanya kepada orang tetapi juga kepada hewan dan barang (seperti kucing dan boneka);
  7. ingin tahu/kuriositas (curiosity), yakni keinginan mengenal atau mengetahui misalnya dengan menanyakan hal-hal baik yang konkret maupun abstrak yang menarik perhatiannya seperti tentang kakeknya atau bahkan tentang Tuhan.
Memasuki masa sekolah atau masa usia SD/MI berlangsung antara usia 6 atau 7-12 tahun, anak mengalami peningkatan respons terhadap stimulus intelektual dan mulai siap untuk tugas-tugas kognitif seperti membaca, menulis, dan berhitung.

Share:

Morfologi Tipe Thalus Lichen Sebagai Bioindikator Pencemaran Udara di Taman Bundaran Cibiru Desa Cipadung Kecamatan Cibiru Kota Bandung

Suasana Bundaran cibiru pagi hari, Oleh Rohim, (27/6/2024)

Lichens, or often called lichens, are unique organisms resulting from a symbiosis between algae and fungi that live together in one unit. Lichens grow on various hard surfaces such as rocks, tree trunks, and walls, especially in environments that have little competition for life, such as places with dry or cold conditions. The fungi in lichens function to provide structure and water absorption, while algae or cyanobacteria play a role in photosynthesis to produce nutrients. The presence of lichens is often an indicator of ecosystem health, because they are very sensitive to air pollution. Lichens also have important ecological roles, such as decomposing rocks into soil and supporting the lives of other microorganisms around them.



Here is the complete file 

Hope it is useful.....
Share:

Kunjungan Ke Balai Benih Hortikultura (BBH) Jawa Barat- Sumedang

The West Java Horticultural Seed Center in Sumedang is an institution that plays an important role in the development and provision of quality horticultural seeds in the West Java region. As a technical implementing unit under the West Java Agriculture Service, this center aims to support seed independence for farmers through the production and distribution of superior seeds of various horticultural commodities such as fruits, vegetables, and ornamental plants. This center also plays a role in monitoring seed quality and providing technical assistance to farmers and farmer groups in various regions. Thus, the Sumedang Horticultural Seed Center not only ensures the availability of quality seeds but also optimizes the productivity of horticultural agricultural products in West Java.

The West Java-Sumedang Horticultural Seed Center has adequate facilities and human resources to conduct testing, research, and development of horticultural seeds. They utilize modern technology to produce seeds with high germination, resistance to pests and diseases, and in accordance with local climate needs. In addition, this center also often holds training and socialization for farmers regarding effective planting techniques, plant maintenance, and the use of quality seeds. With the existence of this center, it is hoped that the horticultural sector in West Java can be more advanced, improve farmer welfare, and meet the needs of the local and national horticultural market.
















Share:

Video: Siklus Hidup Pakis dan lumut

Share:

Perkembangan IPTEK: di Tinjau Dari Sisi Positif dan Negatifnya

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) telah membawa banyak manfaat bagi berbagai aspek kehidupan. Misalnya, kemajuan teknologi di bidang kesehatan telah memungkinkan diagnosis dan perawatan yang lebih cepat dan akurat. Teknologi komunikasi dan informasi membuat informasi lebih mudah diakses, memungkinkan pertukaran data dan konsep di seluruh dunia dalam hitungan detik. Selain itu, otomatisasi industri meningkatkan produktivitas dan efisiensi, memungkinkan manusia menyelesaikan tugas lebih cepat dengan hasil yang lebih baik. Semua ini meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Di sisi lain, kemajuan teknologi juga memiliki dampak negatif. Teknologi yang semakin berkembang dapat menyebabkan ketergantungan berlebihan pada perangkat elektronik, kurangnya interaksi sosial, dan masalah kesehatan mental. Selain itu, otomatisasi berbagai industri dapat menimbulkan ancaman bagi lapangan pekerjaan manusia, terutama bagi mereka yang tidak mahir dalam teknologi. Meningkatnya penggunaan teknologi digital juga meningkatkan risiko keamanan data dan privasi. Akibatnya, meskipun iptek memiliki banyak manfaat, masalah yang muncul harus dihadapi dengan hati-hati agar efek negatifnya dapat dikurangi.


Share:

Pengujian Asam Basa

Dua kelompok senyawa kimia, asam dan basa, memiliki karakteristik dan reaksi yang berbeda. Asam dikenal karena rasanya yang masam dan kemampuan untuk membuat kertas lakmus biru berwarna merah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan asam pada makanan seperti cuka, jeruk, atau lemon, yang mengandung asam asetat dan asam sitrat. Secara kimia, ketika asam dilarutkan dalam air, dia melepaskan ion hidrogen (H+); sebaliknya, basa memiliki sifat yang berlawanan dengan asam. Basa dapat mengubah kertas lakmus merah menjadi biru dan memiliki rasa licin dan pahit saat disentuh. Banyak bahan pembersih, seperti sabun dan deterjen, mengandung basa, seperti natrium hidroksida. Ketika basa dilarutkan dalam air, ia melepaskan ion hidroksida (OH−).


Kedua bahan ini bereaksi satu sama lain dalam proses yang disebut netralisasi. Reaksi ini sangat penting untuk berbagai proses kimia, baik di alam maupun dalam industri, serta untuk menjaga keseimbangan pH dalam tubuh manusia. Ketika asam dan basa bercampur, mereka menghasilkan garam dan air, dan sifat asam atau basanya berkurang atau hilang.

Share:

Ringkasan Singkat Bakteri: Struktur Eksternal dan Internal

Mahasiswa Biologi UIN bandung, Rohim, Sedang melakukan sterilisasi cawan petri di laminar air flow, Laboratorium mikrobiologi, UIN Bandung (4/5/2023). 

 Oleh: Rohim 

(Mahasiswa Biologi UIN Bandung)

Bakteri adalah sel prokariotik dengan panjang dari sekitar 0,2 hingga lebih dari 10 μm. Bentuknya beragam, termasuk kokus, batang, spiral, dan bahkan kubus, yang dapat dilihat dengan mikroskop (Hobot Jan A, 2015). Secara umum, struktur sel bakteri terdiri dari dua komponen utama yaitu, struktur eksternal dan internal.

Berikut Struktur Eskternal  dan Internal Beserta Fungsinya

Sel Eksternal

Kapsul: lapisan luar yang lengket terbentuk atas lipopolisakarida (bakteri negative) berfungsi untuk  perlindungan seperti kekeringan dan zat-zat toksik berbahaya,  Dinding sel: lapisan kaku yang terbentuk atas peptigoglikan memberikan bentuk dan perlingdungan sel, Membrane plasma: berperan dalam proses transformasi zat, respirasi sel dan sintesis protein,  Flagella: untuk motilitas dan Pili atau fimbria berfungsi untuk menangkap makanan di sekitar sel dan membantu adhesi ke sel dan permukaan lain ( Yelgond S S dkk, 2012).

Sel Internal

Sitoplasma: tersusun atas air, protein, lipid dll, berfungsi sebagai proses metabolic sel bakteri, Nukleid: berisi materi genetik (DNA) berperan dalam mengkode gen,  ribosom: organ yang fungsi dalam sintesis protein dengan presentase 30% protein dan 70% RNA,  Plasmid: berbentuk sirkular yang mengandung molekul DNA ekstrakromosomal dan mentransmisikan gen yang megkode resistensi obat, bakteriosin dll (Li Y & Zhou X, 2015).


Refersnsi: 

Hobot, Jan A. (2015). Molecular Medical Microbiology: Second Edition. Academic Press. Hlm. 7-32. 

Li, Yuqing & Zhou, Xuedong. (2015). Atlas Of Oral Microbiology From Healthy Microflora To Disease. Zhejiang University Press. Elsevier Inc.

Yelgond, Soumyashree S., Hiremath, P.S., & Bannigidad, Parashuram. (2012). Identification Of Flagellated Or Fimbriated Bacterial Cells Using Digital Image Processing Techniques. International Journal Of Computer Applications, Vol. (12).

Share:

Tumbuhan Invasif: Swietenia Mahagoni

Oleh: Rohim 

(Mahasiswa Biologi UIN Bandung)

Pohon mahoni, juga dikenal sebagai Swietenia mahagoni dalam bahasa latin, adalah pohon yang berasal dari wilayah Karibia dan Amerika Tengah. Pohon ini telah banyak dibudidayakan di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia, karena berbagai keunggulannya. pohon Mahoni juga sangat dihargai dalam industri mebel dan konstruksi karena teksturnya yang halus, kekuatan, dan warnanya yang menarik. selain Karena kanopinya yang luas dan kemampuan untuk menyerap polutan udara, mahoni juga sering digunakan sebagai pohon peneduh di kawasan perkotaan. Daunnya juga dikenal memiliki potensi sebagai bahan obat tradisional, terutama untuk menurunkan kadar gula darah dan mengatasi penyakit malaria.

Meskipun memiliki banyak potensi, Swietenia mahagoni juga memiliki sisi negatif. Dalam konteks ekologi, pohon ini dikategorikan sebagai tumbuhan invasif di beberapa wilayah, termasuk di Indonesia. Penyebaran yang cepat dan kemampuan adaptasinya yang tinggi memungkinkan mahoni untuk mendominasi habitat asli, sehingga menekan pertumbuhan spesies lokal. Dalam jangka panjang, dominasi mahoni dapat mengurangi keanekaragaman hayati di wilayah-wilayah tersebut, yang berlawanan dengan tujuan konservasi lingkungan.

Sifat invasif Swietenia mahagoni menimbulkan berbagai masalah ekologi. Pertama, pohon ini menghalangi tumbuhnya tanaman lokal yang lebih rentan, menyebabkan penurunan keanekaragaman flora. Keanekaragaman hayati yang terganggu ini juga berdampak negatif pada fauna lokal, terutama hewan yang bergantung pada tanaman asli sebagai sumber makanan dan tempat berlindung. Kedua, karena mahoni mendominasi ruang pertumbuhan dan cahaya, tumbuhan lain mengalami kesulitan untuk bertahan hidup, yang dalam jangka panjang dapat mengubah komposisi ekosistem lokal. Selain itu, sifat invasifnya dapat mengganggu upaya rehabilitasi lahan kritis yang bertujuan untuk meningkatkan stabilitas ekosistem dengan meningkatkan keanekaragaman spesies.

Untuk mengatasi masalah ini, metode yang hati-hati harus diterapkan dalam mengelola Swietenia mahagoni. Salah satu solusi adalah dengan membatasi penanaman pohon ini di daerah-daerah yang berpotensi mengalami invasi. Pohon mahoni dapat ditanam di area perkotaan atau lahan yang telah dimodifikasi manusia, seperti jalur hijau atau hutan tanaman industri, di mana dampak ekologisnya bisa dikendalikan. Selain itu, penanaman pohon lokal harus diutamakan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Edukasi dan kebijakan pemerintah yang tegas diperlukan untuk mengontrol penyebaran tumbuhan ini, termasuk larangan penanaman di daerah konservasi atau ekosistem rentan.

Swietenia mahagoni memiliki resiko ekologis yang segnisikan bagi lingkungan karena sifat invasifnya, meskipun memiliki nilai ekonomi dan estetika yang tinggi. Keunggulan pohon ini dalam industri kayu dan kontribusinya terhadap kualitas udara di perkotaan tidak boleh mengabaikan dampak negatif terhadap keanekaragaman hayati dan ekosistem lokal. Solusi yang tepat seperti pengendalian penanaman dan prioritas pada tanaman lokal dapat membantu meminimalkan dampak buruk dari penyebaran mahoni. Dengan manajemen yang bijak, pohon ini tetap dapat dimanfaatkan tanpa merusak keseimbangan lingkungan yang lebih luas.

Share:

Biologi: Bahasa Rahasia Alam


Oleh: Rohim

(Mahasiswa Biologi, UIN Bandung Semester 5) 

berdasarkan pengertiannya, biologi berasal dari bahasa Yunani yaitu,"Bios" yang artinya hidup dan "Logos" yang artinya ilmu. Jadi biologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari sesuatu yang hidup beserta masalah masalah yang menyangkut kehidupan. Objek kajian biologi sangat luas dan mencakup semua mahluk hidup. Karenanya dikenal berbagai cabang ilmu biologi. 

Berikut ini adalah pengertian dan defenisi biologi dari beberapa ahli, antara lain (Jaenudin, 2021):

a. Campbhell dan Reece

Biologi adalah ilmu yang paling sulit dari semua bidang sains, sebagian karena system mahluk hidup sangatlah kompleks dan sebaagian krena biologi adalah ilmu multidisipliner yang membutuhkan pengetahuan kimia, fisika, dan matematika.

b. Rikky Firmansyah, dkk. "Biologi merupakan ilmu pengetahuan mahluk hidup dan kehidupan." 

c. Wijaya jati, "Biologi merupakan sains mahluk hidup. Biologi menitikberatkan kajian ilmu mengenai mahluk hidup dan kehidupannya."

d. Oman Karmana, "Biologi merupakan ilmu yang dapat menunjang ilmu-ilmu lainnya dalam memecahkan suatu permasalahan."

e. Deswaty Furqonita, "Biologi merupakan ilmu yang mempelajari dan mengkaji segala sesuatu tentang mahluk hidup."

f. Fiktor Ferdinand dan Moekti Ariwibowo, "Biologi adalah ilmu tentang mahluk hidup beserta lingkungannya. Biologi memiliki cabang-cabang tersendiri yang mempelajari lebih spesifik lagi tentang mahluk hidup." 

g. Fuad Izzudin dan Tajudin, "Biologi adalah ilmu yang mempelajari sesuatu yang hidup beserta masalah- masalah yang menyangkut hidupnya." 

h. Bagod Sudjudi dan Siti Laila, "Biologi merupakan bagian dari sains yang mengkaji tentang makhluk hidup dan hubungan dengan lingkungannya."

......


Referensi: Jaenudin, M. 2021. FIKIH IBADAH: Dalam Perspektif Sains. Bandung: CV. Mimbar Pustaka.

Share:

Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Yang Berpusat Pada Pengembangan Mahasiswa


Oleh: Rohim

(Mahasiswa Biologi UIN Bandung Semester 5)

Indonesia memiliki jumlah perguruan tinggi yang sangat banyak, dengan lebih dari 3.957, dengan 3.115 perguruan tinggi di bawah naungan  kemendikbudristek dan 842 dibawah naungan kemenag. Sebagai perbandingan, India hanya memiliki sekitar 1.113 perguruan tinggi pada waktu yang sama. Universitas di Indonesia dibagi menjadi dua jenis berdasarkan metode pembelajarannya yaitu,  universitas pembelajaran dan universitas riset. 

Universitas pembelajaran fokus pada pengajaran dan diskusi yang lebih konvensional, dimana kualitas pembelajaran bergantung pada keterampilan dosen. Namun, pendekatan ini dianggap kurang inovatif karena cenderung melestarikan materi yang sudah ada tanpa mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan inovatif.

Sebaliknya, universitas riset lebih berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan baru. Mahasiswa di universitas riset didorong untuk menemukan dan memecahkan masalah sendiri, sehingga pembelajaran lebih mandiri dan inovatif. Universitas riset, seperti yang ada di negara-negara maju, menunjukkan hasil yang lebih memuaskan karena menghasilkan kebaruan dan terobosan yang diperlukan untuk bersaing di kancah global.

Transformasi perguruan tinggi di indonesia dari universitas pembelajaran menjadi universitas riset dianggap sebagai langkah penting menuju status universitas berkelas dunia. Diperlukan perubahan mindset dari para pengelola dan akademisi untuk tidak hanya mempertahankan status quo (kondisi sekarang), tetapi juga mendorong inovasi dan terobosan baru. Ciri universitas berkelas dunia meliputi kualifikasi dosen sebagai peneliti, serta kemampuan menghasilkan produk inovatif yang dapat dijual kepada masyarakat. Dengan transformasi ini, perguruan tinggi di indonesia diharapkan dapat bersaing di tingkat global dan mengurangi ketergantungan pada teknologi yang diimpor dari negara-negara maju.

Referensi:
Syah, M. 2023. Orasi Ilmiah di Wisuda Universitas Nusa Putra Ke- 9, (di akses 19/10/2024 dari: https://youtu.be/gNkyPMSdJw4?si=ckI0QgUfbINyWNb0).
Share:

Asal Usul

roohwaa adalah salah satu kombinasi yang lebih singkat dan unik dari "r & wa". Bisa diartikan sebagai seseorang yang penuh kasih sayang dan memiliki jiwa dengan penuh dengan ambisi dan semangat serta memiliki  ingin selalu berjuang dalam meraih impiannya.

Share:

Blogger news

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Cari Blog Ini