Berbagi ilmu... Ilmu untuk semua...

Tampilkan postingan dengan label Entomologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Entomologi. Tampilkan semua postingan

Interaksi Parasit dan Inang.14

 Parasit Dan Parasitisme

  • Parasitisme adalah salah satu bentuk interaksi simbiosis (simbiosis = “hidup bersama”).

  • Parasit: hidup di dalam atau di atas (luar) organisme inang.

    • menggunakan inang untuk proses hidupnya (bergantung).

    • biasanya menyebabkan penyakit pada inang.

    • namun, ada juga yang bisa memberi manfaat bagi kedua pihak.

  • Inang biasanya organisme yang lebih besar dan berfungsi mendukung pertumbuhan serta kelangsungan hidup organisme yang lebih kecil (parasit).

  • Parasitoid adalah organisme yang saat dewasa hidup bebas, tetapi meletakkan telur atau larva pada tubuh inang (biasanya serangga).

Jenis-jenis Parasit

  • Parasit: Serangga yang hidup di atas atau di dalam makhluk hidup lain (tumbuhan/hewan) untuk waktu lama, mengambil energi dari inang dan merusaknya.

  • Parasitoid: Serangga yang tumbuh dengan cara memakan inangnya sampai mati. Saat dewasa hidup bebas, mencari inang, lalu meletakkan telur di dalam atau di dekat inang.

  • Parasitoid primer: Menyerang inang yang bukan parasitoid.

  • Parasitoid sekunder: Menyerang inang yang sudah diparasit oleh parasitoid primer (jadi memparasit parasitoid lain). Bisa wajib atau tidak wajib.

  • Hiperparasitoid: Sama dengan parasitoid sekunder (parasit dari parasit).

  • Koinobiont: Parasitoid yang membiarkan inangnya tetap hidup, makan, dan bertahan, sementara parasit tumbuh di dalamnya.

  • Idiobiont: Parasitoid yang langsung melumpuhkan inangnya secara permanen, lalu bertelur. Larva makan dari inang yang sudah lumpuh.

  • Endoparasitoid: Hidup di dalam tubuh inang. Biasanya termasuk koinobiont.

  • Ektoparasitoid: Hidup di permukaan tubuh inang. Biasanya termasuk idiobiont.

  • Kleptoparasit: Spesies yang mencuri makanan dari spesies lain. Pada serangga biasanya terjadi pada serangga sosial (contoh: lebah koeko). Disebut juga kleptobiosis, karena individu inangnya tidak diparasit langsung. Namun pada parasitoid, kleptoparasitme sejati cukup umum.

  • Parasit sosial: Spesies yang memanfaatkan struktur sosial dari spesies lain, bukan individunya. Biasanya terjadi pada serangga sosial (misalnya tinggal di sarang semut atau rayap).

  • Inquiline: Spesies yang hidup di dalam sarang spesies lain (misalnya sarang semut atau rayap), atau di dalam jaringan tubuh inang (contoh: serangga pembentuk gall). Kehadirannya bisa merugikan atau tidak merugikan inang.

  • Patogen: Spesies yang menyebabkan penyakit pada makhluk hidup lain. Biasanya berupa virus, bakteri, protozoa, atau jamur, baik pada tumbuhan maupun hewan.

  • Vektor: Spesies yang menularkan patogen dari satu inang ke inang lain. Misalnya nyamuk yang menularkan parasit malaria.

  • Multiparasitisme: Kondisi di mana satu inang diserang oleh lebih dari satu jenis parasitoid sekaligus.

  • Superparasitisme: Kondisi di mana terlalu banyak telur diletakkan pada satu inang, lebih banyak daripada sumber daya inang yang bisa mendukung. Telur bisa berasal dari spesies yang sama atau berbeda.

Jumlah Spesies Serangga Parasit

10 famili terbesar pada fauna serangga di Inggris dalam kategori: predator, parasit herbivora, dan parasit karnivora. (Berdasarkan daftar spesies Kloet & Hincks, 1945. Dari Price, 1980).

Predator Jumlah Parasit Herbivora Jumlah Parasit Karnivora Jumlah
Dytiscidae 110 Cecidomyiidae 629 Ichneumonidae 1938
Sphecidae 104 Curculionidae 509 Braconidae 891
Coccinellidae 45 Aphididae 365 Pteromalidae 649
Corixidae 32 Tenthredinidae 358 Eulophidae 485
Cucujidae 32 Noctuidae 298 Tachinidae 228
Hemerobiidae 29 Chrysomelidae 248 Philopteridae 176
Vespidae 27 Cicadellidae 242 Platygasteridae 147
Asilidae 26 Cynipidae 238 Encyrtidae 144
Anthocoridae 25 Olethreutidae 216 Diapriidae 125
Saldidae 20 Miridae 186 Ceraphronidae 108
Rata-rata (MEAN) 45 329 489


Pertahanan Inang terhadap Parasit

Menurut Gross (1993), serangga memiliki berbagai pertahanan perilaku dan morfologi terhadap parasitoid. Ada beberapa kategori:

  1. Mengurangi kemungkinan ditemukan
    – misalnya bersembunyi, meninggalkan tanaman tempat makan, berpindah dari kotoran, atau menghindari area berbahaya.

  2. Pertahanan perilaku & morfologi
    – misalnya menggunakan “perisai” (armor), gerakan menghindar, sekresi pertahanan, atau gerakan agresif untuk melawan parasitoid.

  3. Pertahanan fisiologis dalam tubuh
    – misalnya membunuh telur atau larva parasitoid melalui kapsulasi (pembungkusan), penggunaan senyawa kimia tumbuhan (alelokimia), atau menghasilkan racun sendiri.


Gross (1993) juga membagi pertahanan inang ke dalam 5 kategori utama:

  1. Ciri morfologi: cangkang telur yang kuat, pelapis pelindung (sisik, rambut, kotak, kepompong, kantung sutra, atau jaringan gulungan daun). Pada larva, kulit tebal bisa melindungi. Pupa juga bisa dilindungi dengan kulit tambahan atau berada di dalam kepompong.

  2. Perilaku menghindar: misalnya menggeliat kuat, menjatuhkan diri dengan benang sutra, atau bergerak liar.

  3. Perilaku agresif: menggigit, mengeluarkan zat kimia pertahanan, atau menendang (contoh: kutu daun).

  4. Perlindungan sosial: beberapa serangga hidup berkelompok sehingga bisa saling melindungi, misalnya kutu daun dan serangga pengisap lain yang dijaga oleh semut.

  5. Perawatan oleh induk: ada serangga yang menjaga telur atau anaknya, misalnya beberapa Hemiptera, kumbang, dan Hymenoptera.

Konvergensi Riwayat Hidup (Life-history convergence).

Siklus hidup Swaine jack pine sawfly (serangga herbivora), serta parasitoid yang menyerang setiap tahap hidupnya (sebagai karnivora primer) dan parasitoid lain yang menyerang parasitoid tersebut (karnivora sekunder). (Sumber: Price and Tripp, 1972).


Penjelasan Sederhana:

  • Herbivora (inang utama): Serangga pemakan tumbuhan (Swaine jack pine sawfly).

  • Karnivora primer (parasitoid): Serangga yang menyerang dan memakan sawfly di tiap tahap hidupnya (mulai dari telur, larva, pupa/kepompong, hingga dewasa).

  • Karnivora sekunder (hiperparasitoid): Serangga lain yang tidak menyerang sawfly langsung, tapi menyerang parasitoid yang sudah memarasit sawfly.

Jadi, ada rantai interaksi bertingkat:

  • Tumbuhan → dimakan herbivora (sawfly).

  • Herbivora → diparasit oleh parasitoid (karnivora primer).

  • Parasitoid → diserang lagi oleh hiperparasitoid (karnivora sekunder).



Share:

Entomologi (Serangga)



Entomologi,
berasal dari bahasa Yunani kuno (entomon yang berarti serangga) dan (logia yang berarti studi/ilmu tentang), sehingga entomologi adalah cabang ilmu biologi yang memepelajari ilmu tentang serangga. Entomologi merupakan disiplin ilmu yang mengkaji segala aspek kehidupan serangga, mulai dari struktur tubuh, perilaku, hingga perannya dalam ekosistem. Entomologi merupakan cabang dari ilmu zoologi, yang mencakup ilmu yang memepelajari arthropoda (hewan yang beruas-ruas) khusunya seperti laba-laba dikenal dengan Arachnida serta luwing dan juga millepoda. 
Sama dengan cabang ilmu zoologi lainnya, entomologi memiliki landasan taksonomi. Bidang ini menyelidiki serangga secara mendalam, meliputi studi tentang gen, perilaku, struktur tubuh, fungsi tubuh, klasifikasi, hubungan evolusi, dan interaksi serangga dengan lingkungannya.

Beberapa cabang ilmu atau sub bidang entomologi, di antaranya sebagai berikut:

Kingdom: Animalia (Hewan)
Phylum: Arthropoda (Artropoda)
Class: Insecta (Serangga)
Sub Class: 1. Apterygota (tanpa sayap); 2. Pterygota (bersayap)
Ordo: 
1. Collembola,
2. Diplura,
3. Microcoryphia,
4. Protura,
5. Thysanura

Sljt...
1. Anoplura
2. Coleoptera (kumbang, kunang-kunang
3. Dermaptera (cocopet, 
4. Diptera (lalat rumah, nyamuk 
5. Embioptera
6. Hemiptera (kepik, tonggeret, kepik daun, kepinding, anggang-anggang
7. Homoptera
8. Hymenoptera (semut, lebah, tawon
9. Isoptera (rayap, 
10. Lepidoptera (ngengat, kupu-kupu,
11. Mallophaga 
12. Mecoptera
13. Neuroptera (serangga tertua dapat melakukan metamorfosisi sempurna
14. Odonata (capung, capung jarum, 
15. Orthoptera (belalang, jangkrik, belalang juta
16. Plecoptera
17. Psocoptera (perlu kajian
18. Siphonaptera (pinjal: parasit peminum darah pada mamalia dan aves
19. Strepsiptera
20. Thysanoptera
21. Trichoptera
22. Zoraptera
23. Blattodea (kecoak, rayap, 
24. Plecoptera (lalat batu, 
25. Epheromenoptera (lalat capung
26. Mantodea (belalang sentadu, 





Share:

Serangga dan Tumbuhan.9


 HERBOVORY INSECT

Serangga herbivora memiliki arti serangga yang mengeksploitasi bagian-bagian tumbuhan untuk makanan mereka, yang kemudian dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa guild (feeding guild atau functional group). 

 Kelompok pemakan tumbuhan: 

 • Chewer (pemakan daun, batang, bunga, pollen, biji,dan akar) 

 • Miner dan borrer (memakan antar permukaan tumbuhan) 

 • Gall-former (tinggal dan makan di dalam tumbuhan serta menginduksi produksi reaksi pertumbuhan abnormal pada jaringan tumbuhan) 

 • Sap-suckers (menyerap cairan tumbuhan). 

 • Predator dan frugivore (mengkonsumsi bagian reproduksi dari tumbuhan).

Categories of interactions

Herbivora (Fhytophagy) : mengunyah duan, menghisap getah, memakan biji-bijian, dll

Mutualisme Serangga dan tanaman : seperti penyerbukan, tanaman menyediakan nakanan bagi serangga

Antagonisme (- or + ) : yang satu di untungkan satu di rugikann

komensalimse : yang satu dapat menfaat yang lain tidak.




Share:

Faktor Abiotik Dan Biotik.6

 AKTOR YANG MEMPENFARUHI SERANGGA

Komunitas serangga dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang melibatkan interaksi di dalam komunitas serangga itu sendiri serta dengan lingkungan sekitarnya. 

- Salah satu faktor utama adalah kompetisi antar serangga dalam memperebutkan sumber nutrisi, ruang hidup, dan pasangan untuk keberhasilan reproduksi. 

- Selain itu, faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, cahaya, dan media seperti tanah dan bebatuan juga berperan penting dalam menentukan struktur komunitas serangga. 

- Di sisi lain, interaksi dengan manusia turut memberikan pengaruh besar pada populasi serangga, terutama melalui berbagai upaya manusia dalam mengendalikan atau membasmi serangga di daerah tertentu, yang dapat menyebabkan perubahan signifikan pada keberadaan dan keseimbangan koloni serangga.


FAKTOR ABIOTIK

Suhu 

- Suhu memainkan peran penting dalam mempengaruhi berbagai aktivitas serangga dan komunitasnya. 

- Pada umumnya, serangga tidak dapat bertahan hidup (mati) pada rentang suhu antara 40-60°C, meskipun efek kematian ini juga dipengaruhi oleh durasi paparan terhadap suhu tinggi tersebut. 

- Serangga memiliki plastisitas adaptif yang memungkinkan mereka untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, sehingga mereka mampu memperluas batas toleransi suhu mereka. Proses ini dapat didukung oleh fenomena pemanasan global, seperti yang terjadi pada serangga Helicoverpa armigera. 

- Di wilayah beriklim sedang, suhu minimum selama musim dingin menjadi faktor penentu yang membatasi penyebaran serangga ke arah utara.


Haplotipe kumbang daun tergulung dan kompleks spesies tersembunyi pada gradien elevasi Barva (utara) dan Talamanca (selatan) (A–K).

Toleransi serangga terhadap pemanasan global Carlos García-Robledo, Erin K. Kuprewicz, Charles L. Staines, Terry L. Erwin, W. John Kress Prosiding Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Januari 2016, 113 (3) 680685; DOI:10.1073/pnas.1507681113



- Suhu sangat memengaruhi berbagai aktivitas serangga, termasuk makan, pertumbuhan, dan reproduksi. 

- Laju perkembangan serangga sangat bergantung pada suhu, di mana perkembangannya hanya dapat terjadi di atas titik nol biologis atau suhu ambang perkembangan. 

- Pada spesies serangga yang hidup di daerah beriklim sedang, diperlukan tahap perkembangan khusus yang memungkinkan mereka untuk bertahan dalam kondisi musim dingin yang panjang dan dingin. Adaptasi ini sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup serangga dalam lingkungan yang mengalami perubahan suhu musiman ekstrem.

gambar contoh 

Kelembapan 

- Kelembapan merupakan faktor lingkungan penting bagi serangga dan bergantung pada jenis biotope tempat mereka hidup. 

- Kelembapan ini bisa berupa kelembapan relatif: seperti udara, kelembapan tanah, atau kandungan air pada tanaman dan bagiannya. 

- Ada spesies euryhygric yang mampu menoleransi berbagai tingkat kelembapan, serta stenohygric yang memiliki toleransi lebih terbatas. Sebagai contoh, kumbang kentang yang berasal dari lingkungan semi-kering mampu bertahan meski kehilangan hingga 50% kadar air dalam tubuhnya. 

- Kelembapan juga memengaruhi perilaku serangga dalam berbagai situasi. Serangga yang melewati musim dingin dalam fase dewasa cenderung muncul lebih awal jika kondisi tanah kering atau berlapis serasah, sedangkan wireworm dapat bergerak lebih lambat di tanah basah.

- Pada banyak jenis serangga, perkembangan embrio hanya bisa dimulai setelah telur menyerap udara. Contohnya, hal ini terjadi pada may-beetle dan rape saw-fly.

- Kelembapan udara yang berlebihan dapat berbahaya bagi serangga; misalnya, larva muda kumbang kentang mengalami kematian hingga 60% akibat curah hujan tinggi. Menariknya, kumbang kentang dewasa mampu bertahan hingga dua minggu dalam kondisi udara lembap. 

- Efek kelembapan, bersamaan dengan suhu, memiliki efek besar pada laju perkembangan dan reproduksi serangga; misalnya, tungau memerlukan kelembapan sekitar 13% untuk reproduksi optimal.

Spesies lalat dari habitat yang berbeda lebih menyukai rentang kelembapan yang berbeda. Drosophila melanogaster digambarkan di Lund, Swedia; D. mojavensis digambarkan di gurun Saguaro di Arizona; D. teissieri digambarkan di hutan hujan afrotropis. Gallio dan Stensmyr, CC BY-ND Stensmyr, CC BY-ND (https://theconversation.com/a-sixth-sense-for-humidityhelps-insects-stay-out-of-climatic-trouble-59039).






Cahaya

Cahaya merupakan sumber energi utama dalam ekosistem alami, dengan radiasi matahari sebagai faktor dominan yang memengaruhi kehidupan serangga. Terdapat beberapa parameter cahaya yang penting bagi serangga, meliputi:

- intensitas cahaya; 

- posisi matahari di langit; 

- panjang gelombang atau warna cahaya; 

- polarisasi;

- durasi penyinaran. 

Masing-masing aspek ini dapat memengaruhi perilaku dan aktivitas serangga, termasuk orientasi, waktu beraktivitas, dan pola migrasi. Respons serangga terhadap cahaya sangat penting bagi interaksi mereka dengan lingkungan, membantu mereka menemukan sumber makanan, mencari pasangan, dan menghindari predator.

Intensitas Cahaya 

- Intensitas cahaya memainkan peran penting dalam kehidupan serangga dan dapat berdampak buruk bagi spesies yang hidup di lingkungan gelap, seperti tanah atau gua, karena mereka rentan terhadap radiasi sinar ultraviolet dari matahari. 

- Tingkat intensitas cahaya memengaruhi aktivitas serangga, baik yang beraktivitas pada malam hari (nokturnal) maupun pada siang hari (diurnal). 

- Sebagai contoh: serangga diurnal seperti cockchafer Eropa (Melolontha melolontha) memiliki ritme eksogen yang dipicu oleh perubahan cahaya saat senja. Sementara itu, beberapa serangga lain seperti ngengat selentingan Eropa (Lobesia botrana) memiliki ritme endogen, yang diatur oleh jam internal mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk beraktivitas pada waktu yang tepat sesuai kebutuhan biologisnya.


Posisi Cahaya Matahari di Langit

- Posisi matahari di langit memiliki peran penting dalam orientasi spasial berbagai serangga. 

- Beberapa serangga menunjukkan fototaksis, yaitu respons positif atau negatif terhadap cahaya, yang membuat mereka bergerak menuju atau menjauhi sumber cahaya. Fenomena ini dimanfaatkan dalam perangkap cahaya, seperti yang digunakan untuk menangkap penggerek Eropa. 

- Selain itu, serangga lain seperti kumbang kentang menggunakan posisi matahari untuk orientasi saat mencari tanaman pangan, selalu bergerak dengan sudut tertentu terhadap cahaya. 

- Lebah madu memanfaatkan cahaya dalam orientasi kompleks di dalam sarang gelap. Dengan mengandalkan jam internal mereka, lebah dapat menentukan sudut antara sarang, arah cahaya, dan jalur penerbangan, yang terlihat dalam tarian mengibas mengibas-ngibaskan ekor (waggle dance), sebagai cara mereka berkomunikasi tentang lokasi sumber makanan di luar sarang.


Panjang Gelombang Cahaya

- Penglihatan warna pada serangga menunjukkan perbedaan yang signifikan antara spesies. Misalnya, lebah madu mampu melihat sinar ultraviolet sebagai warna, namun tidak dapat mengenali warna merah. 

- Panjang gelombang cahaya sangat memengaruhi perilaku serangga, terutama dalam interaksi mereka dengan lingkungan. Hal ini dimanfaatkan dalam perangkap warna, di mana warna tertentu menarik serangga tertentu: lempeng kuning efektif menarik lalat putih, sementara lempeng biru menarik kutu daun dan thrips. 

Adaptasi ini memudahkan serangga untuk mengenali bunga, sumber makanan, atau tempat perlindungan tertentu sesuai dengan warna atau panjang gelombang yang mereka tangkap.

Sensitivitas spektral pada manusia dan serangga.

(a). Sensitivitas spektral fotoreseptor peka warna biru (S, panjang gelombang pendek), hijau (M, panjanggelombang sedang), dan merah (L, panjang gelombang panjang) pada manusia yangdisajikan sebagai dasar kerucut 10°, dihitung dari Stiles dan Burch (1959) fungsi pencocokanwarna (Stockman & Sharpe, 2000; (www.cvrl.org/).

(b). Fungsi luminositas manusia, digunakan untuk memprediksi "kecerahan" relatif sebagaimana dirasakanoleh manusia. 

(c). Sensitivitas spektral fotoreseptor pekerja lebah madu (Briscoe & Chittka, 2001; dimodifikasidari Peitsch dkk., 1992). 

(d). Elektroretinografi pada kunang-kunang Big Dipper jantan Photinus pyralis menunjukkan bahwa spesies inimungkin telah kehilangan opsin yang sensitif terhadap panjang gelombang pendek (dimodifikasi dariLall, Chapman, Ovid Trouth 10/16/23 , & Holloway, 1980).

Polarisasi Cahaya 

- Cahaya adalah gelombang elektromagnetik dengan berbagai sifat, salah satunya adalah polarisasi, yaitu arah getaran osilasi cahaya yang dapat berubah karena partikel padat di atmosfer dan tergantung pada posisi matahari di langit. 

- Polarisasi cahaya ini dapat dilihat oleh serangga sosial, yang memanfaatkannya untuk orientasi bahkan dalam kondisi cuaca yang kurang mendukung, saat arah cahaya tidak dapat digunakan secara langsung.  

- Kemampuan untuk mendeteksi polarisasi memungkinkan serangga sosial, seperti lebah, untuk tetap menavigasi dengan akurat dalam mencari sumber makanan atau kembali ke sarang, sehingga menjaga efektivitas perilaku mereka dalam berbagai kondisi lingkungan.

Contoh respon serangga terhadap cahaya terpolarisasi linier yang dipantulkan dari udara.Adaptasi spesifik dari spesies serangga semi-akuatik yang berbeda untuk kehidupan didekat badan udara dan karakteristik perilaku mereka sebagai respons terhadappermukaan mengkilap yang terpolarisasi secara linier (dilambangkan dengan panah dengan mata panah di kedua sisi).




Penyinaran Cahaya 

- Durasi periode terang (fase foto) dan gelap (fase skotofase) dalam satu hari memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan spesies, terutama di daerah beriklim sedang. 

- Variasi durasi ini dapat menyebabkan perubahan morfologi yang signifikan pada beberapa organisme. Sebagai contoh, pada jangkrik (Euscelis plebujus), fase penyinaran yang berlangsung selama 16 jam atau lebih menghasilkan individu dengan sayap yang lebih panjang (forma plebejus), sementara fase penyinaran yang lebih pendek, di bawah 16 jam, akan menghasilkan jangkrik dengan tubuh yang lebih pendek dan tahan terhadap kondisi tertentu (forma incises). Perubahan ini menunjukkan bagaimana durasi cahaya dapat mempengaruhi evolusi morfologi spesies.


Sedang (medium) 

- Kedua media, udara dan tanah, memiliki dampak yang signifikan terhadap komunitas serangga. 

- Udara: berfungsi sebagai ruang sementara bagi serangga, tempat mereka sering muncul. Namun, serangga kecil cenderung tidak memanfaatkan arus udara hangat di atmosfer. 

- Perubahan tekanan udara juga mempengaruhi perilaku serangga, dengan banyak serangga bersembunyi ketika cuaca menjadi berangin. 

- Serangga yang mampu terbang biasanya terbang melawan angin atau terbawa oleh angin, tergantung pada kekuatan dan arahnya.

- Sementara itu, tanah juga berperan penting dalam kehidupan serangga, dengan parameter fisik dan kimiawi tanah mempengaruhi keberadaan mereka. Misalnya, Agriotes spp. (wireworm) lebih menyukai tanah dengan pH antara 4,0-5,5. 

- Bahan organik di tanah menjadi sumber makanan yang penting bagi ulat cockchafer dan wireworm pada tahap awal larvanya. 

- Kandungan CO2 di tanah juga mempengaruhi keberadaan serangga lainnya, seperti larva Melolontha melolontha yang dapat bertahan hidup hingga satu bulan di tanah yang jenuh dengan CO2. 

-Aspek fisik tanah juga mempengaruhi kehidupan serangga tanah, contohnya Zabrus tenebrioides, yang tidak dapat hidup di tanah berpasir gembur karena larvanya membutuhkan lempung untuk membuat tabung vertikal di dalam tanah.


Faktor Antropogenik 

- Faktor antropogenik mencakup semua dampak yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang mampu mengubah komposisi habitat spesies serta komunitas biotik, sering kali lebih besar dari perubahan alami populasi di planet ini. 

Salah satu contohnya adalah perubahan flora alami melalui penggundulan hutan skala besar untuk membuka lahan bagi produksi tanaman. 

- Teknologi dalam produksi dan perlindungan tanaman, seperti: kebijakan penggunaan pestisida termasuk DDT, juga memainkan peran besar dalam perubahan ini. S

- Selain itu, pembangunan habitat buatan menciptakan peluang bagi spesies sinantropis hewan yang hidup dekat manusia seperti kecoak dan hama produk simpanan untuk berkembang biak. 

- Perpindahan spesies yang disengaja maupun tidak disengaja, baik spesies yang bermanfaat maupun berbahaya, turut memperkenalkan musuh alami dari hama baru, meskipun upaya ini kadang berhasil dan kadang gagal. 

- Beban lingkungan akibat polusi yang dihasilkan manusia, termasuk seperti: bahan organik, anorganik, sintetis, dan radioaktif, semakin memperburuk dampak pada habitat dan komunitas biotik yang ada.


FAKTOR BIOTIK 

Faktor biotik adalah faktor-faktor yang timbul dari interaksi dalam komunitas serangga serta dipengaruhi oleh kondisi internal serangga itu sendiri. Faktor ini meliputi:

- ketersediaan sumber makanan, yang sangat memengaruhi kelangsungan hidup dan reproduksi serangga. 

- ada efek homotipal, yaitu dampak yang muncul akibat interaksi antara individu serangga dari spesies yang sama, seperti kompetisi atau perilaku sosial yang mempengaruhi struktur populasi.

- efek heterotipal terjadi melalui interaksi antara serangga dengan spesies yang berbeda, termasuk predasi, parasitisme, atau mutualisme, yang semuanya berperan dalam mengatur keseimbangan populasi dan dinamika ekosistem.


Sumber Makanan

Makanan merupakan elemen utama dalam mempertahankan keberlanjutan komunitas serangga, karena jenis dan ketersediaannya memengaruhi cara hidup serta struktur komunitas serangga. 

Terdapat berbagai pola makan pada serangga, yaitu: 

- hylophagous: di mana serangga mengonsumsi bahan organik yang membusuk, seperti daun-daun mati atau kayu lapuk.

- necrophagous, yang memakan bahan zoogenik atau hewan yang telah mati.

- saprofag: mengonsumsi bahan fitogenik yang mati, seperti bagian tumbuhan yang telah rusak atau mati. 

- jenis coprophagous: serangga pemakan kotoran hewan yang lebih tinggi, contohnya tumblebug yang menggulung kotoran untuk dijadikan sumber makanannya. 

- Setiap kelompok ini memainkan peran penting dalam siklus dekomposisi dan keseimbangan ekosistem.

Sumber makanan merupakan faktor penting dalam kehidupan dan kelangsungan komunitas serangga, di mana berbagai jenis serangga memiliki pola makan yang berbeda. 

- Serangga biophagous, misalnya, memakan bahan organik hidup, yang terdiri dari:

- phytophagous (herbivor) yang memakan tumbuhan

- zoophagous (karnivora) yang memangsa hewan hidup. Di antara zoophagous, terdapat:

  • parasit yang hidup pada hewan tingkat tinggi tanpa membunuh inangnya;
  • parasitoid yang hidup pada spesies yang lebih tinggi dan akhirnya membunuh inangnya;
  • predator atau episite yang membunuh dan memakan sebagian atau seluruh bagian mangsanya. 

Dari perspektif hama, serangga dapat dibedakan berdasarkan kespesifikannya seperti:

  • hama monofagus yang hanya memakan satu spesies tumbuhan, Ex: kumbang kacang - Bruchus pisorum
  • hama oligofagus yang lebih suka tumbuhan dari famili tertentu, Ex: kumbang kentang - Leptinotarsa decemlineata
  • hama polifag yang mampu memakan berbagai spesies tanaman, Ex: Noctua- Agrotis segetum, Agriotes spp. (wireworm), Melolontha spp.
  • hama pantofag yang mampu memakan bahan organik hidup dan mati dari berbagai sumber, seperti kecoa- Blatta spp. 

- Serangga spesialis, yaitu serangga dengan kisaran sumber makanannya sempit, dan populasinya akan sangat dipengaruhi jika makanan tersebut tidak ada.

- serangga oportunis, merupakan serangga dengan kisaran sumber makanan yang luas, dan masih bisa bertahan hidup walau ada satu jenis atau sumber makanan yang tidak ada 

- Mengubah sumber makanan --> adalah fenomena ketika tahap perkembangan dari spesies serangga yang sama akan tetapi sumber makanannya berbeda pada siklus yang berbeda, mis. Ichneumons adalah bersifat parasitoid pada saat larva, akan tetapi memakan serbuk sari dan nektar bunga pada saat dewasa.

- Parameter makanan dapat mempengaruhi keefektifan reproduksi, jumlah keturunan dan pertumbuhan dan perkembangannya misalnya. dalam kasus kumbang Lamellicorn (stag-beetle), menjadi lebih sedikit, dewasa yang lebih kecil dan tidak subur apabila memiliki makanan yang tidak tepat. 

- Kuantitas dan kualitas makanan dapat mempengaruhi perkembangan serangga mis. dalam kasus lebah, larva yang diberi asupan makanan bergizi akan berkembang baik menjadi ratu, tetapi larva yang kurang makan berkembang menjadi lebah pekerja. 

- Serangga betina umumnya membutuhkan makanan yang lebih banyak dan lebih berkualitas daripada serangga jantan.


Efek homotipe

Dalam komunitas serangga, terdapat dua fenomena yang memengaruhi dinamika populasi spesies yang sama. 

- Pertama, ketika jumlah individu dalam populasi terlalu tinggi, populasi tersebut dapat mengalami penurunan akibat wabah atau kondisi lingkungan yang tidak mampu lagi menampung jumlah serangga tersebut. 

- Kedua, apabila jumlah betina terlalu sedikit, maka sebagian jantan akan kesulitan menemukan pasangan, yang berujung pada penurunan populasi karena jumlah keturunan yang dihasilkan menjadi terbatas. 

- Selain itu, beberapa spesies serangga memerlukan kontak langsung dengan kelompoknya untuk bertahan hidup atau melakukan migrasi, seperti efek kelompok pada belalang yang bergerombol saat bermigrasi. 

- Interaksi kompetisi juga terjadi dalam komunitas serangga, baik antar individu dari spesies yang sama (kompetisi intraspesifik) maupun antar spesies berbeda (kompetisi antarspesies). Kompetisi ini terjadi ketika dua individu atau spesies saling bersaing memperebutkan sumber daya yang terbatas, seperti makanan, wilayah, atau udara, dan dapat mempengaruhi kebugaran atau peluang kelangsungan hidup salah satu pihak.


Efek heterotipikal

- Efek heterotipikal menggambarkan interaksi antara spesies berbeda yang hidup berdampingan dalam suatu habitat dan saling memengaruhi. 

- Salah satu bentuknya adalah probiosis, yaitu hubungan antara dua organisme yang saling mendukung proses kehidupannya, seperti lebah dan tanaman berbunga yang saling membantu dalam proses penyerbukan dan produksi makanan. 

- Parabiosis, di sisi lain, melibatkan dua organisme di mana hanya satu yang mendapat manfaat, sementara yang lain tidak terpengaruh, seperti dalam kasus komensalisme antara kumbang biji kubis (Ceutorhynchus obstrictus) dan pengusir hama Dasineura brassicae. 

- Bentuk lain dari interaksi ini ada:

simbiosis, di mana hubungan antarspesies berlangsung lama dan biasanya menguntungkan kedua pihak. 

  • Misalnya, dalam symfilia, serangga sosial seperti semut melindungi kutu daun sebagai imbalan dari sekresi manis yang dihasilkan kutu tersebut. 

Ada juga hubungan yang merugikan salah satu pihak, seperti:

- Antibiosis, di mana interaksi ini dapat menekan atau membahayakan salah satu spesies. 

  • Salah satu contohnya adalah predasi, ketika predator memburu dan memakan mangsanya hingga menyebabkan kematian pada mangsa tersebut, seperti tawon yang memangsa lebah.
Share:

Perilaku, Sistem Perkawinan dan Seleksi Seksual.5

Perilaku, sistem perkawinan, dan seleksi seksual pada serangga menunjukkan beragam strategi adaptif yang menarik. Banyak serangga menggunakan perilaku spesifik seperti tarian, suara, atau feromon untuk menarik pasangan, bergantung pada spesies dan lingkungan.

- Serangga memiliki perilaku kompleks yang didorong oleh berbagai motivasi seperti mencari makan, menghindari predator, dan berkomunikasi yang semuanya berperan penting sejak serangga memasuki tahap dewasa.


- Untuk memahami pola komunikasi dan perilaku reproduksi serangga, penting terlebih dahulu mengkaji kelangsungan hidup, perilaku makan, serta pemilihan habitat dan mikrohabitat yang sesuai.

- Setiap tahap dalam siklus hidup serangga, mulai dari nimfa atau larva hingga dewasa, harus mampu bertahan hidup, memperoleh makanan, serta menemukan tempat yang cocok untuk tinggal.

- Pengetahuan tentang ekologi reproduksi dan kelangsungan hidup keturunan mereka sangat esensial dalam pengelolaan serangga, terutama karena praktik pengelolaan sering kali menargetkan parameter populasi yang krusial ini.

- Perilaku serangga mencakup seluruh aktivitasnya, mulai dari menetas hingga ajal tiba, dan berkaitan erat dengan kelangsungan hidup, pencarian makanan, pembuatan tempat tinggal, komunikasi, dan reproduksi.

- Pemahaman perilaku ini sangat penting dalam konteks adaptasi terhadap ancaman cuaca, khususnya migrasi, persaingan dalam menemukan makanan, dan menghindari predator.

- Perilaku mencari makan pada serangga menunjukkan kompleksitas, dimana melibatkan urutan stimulus-respons, seperti pada parasitoid yang mencari inang untuk meletakkan telurnya.


KELANGSUNGAN UNTUK HIDUP (Survival)

- Kelangsungan hidup serangga dihadapkan pada berbagai ancaman lingkungan, termasuk perubahan cuaca ekstrem, ketersediaan makanan yang terbatas, persaingan, serta ancaman dari musuh alami seperti predator, parasitoid, dan patogen. Ancaman-ancaman ini sering kali hadir secara berurutan, memicu berbagai respons perilaku dari serangga untuk bertahan hidup.

- Serangga menunjukkan adaptasi yang luar biasa dalam menghadapi kondisi musiman, termasuk kemampuan bertahan di musim dingin, termoregulasi, dan perilaku migrasi serta penyebaran untuk menghindari kondisi buruk.

- Beberapa spesies serangga seperti capung, belalang, kutu daun, wereng, kupu-kupu, ngengat, kumbang, lalat, semut, dan lalat gergaji (Johnson 1969, Dingle 1996, Gatehouse 1997, Chapman et al. 2008). dengan menempuh migrasi sebagai strategi adaptif utama, yang memungkinkan mereka untuk menghindari cuaca buruk dan memanfaatkan kondisi baru yang lebih menguntungkan di lingkungan yang berbeda.


TEMPAT UNTUK TINGGAL

- Proses mencari makan pada serangga melibatkan pencarian dan konsumsi makanan, dengan pola makan yang sering kali spesifik dan kompleks. Contohnya adalah pada spesies parasitoid, Cardiochiles nigriceps (Hymenoptera: Braconidae), yang menggunakan ulat pucuk tembakau, Heliothis virescens (Lepidoptera: Noctuidae), sebagai inangnya.

- Senyawa spesifik yang ditemukan pada kutikula inang memberikan rangsangan bagi parasitoid untuk meletakkan telurnya, meskipun inang dapat ditolak jika telah diparasit sebelumnya.



Perkembangan parasitoid betina, dari menemukan habitat serangga inang hingga menemukan inang, menerima inang, dan berhasil memanfaatkan inang, menghasilkan kemunculan dewasa lain yang mengulangi proses tersebut. From Vinson 1975.










- Selain itu, setiap individu dari setiap spesies serangga harus menemukan tempat tinggal yang tepat untuk dapat bertahan hidup.

- Beberapa kategori utama tempat tinggal serangga in, tercantum dalam tabel.


- Betina serangga meletakkan telurnya dengan cermat di lokasi yang tepat, yaitu di tempat di mana nimfa atau larva mereka akan segera memiliki akses ke sumber makanan.


Ketersediaan daun dalam kelas ukuran daun (lingkaran padat dan garis padat) pada pohon kapas berdaun sempit, Populus angustifolia, dan pilihan induk batang kutu daun, Pemphigus betae (batang padat dan garis putus-putus). Perhatikan preferensi yang kuat untuk kelas luas daun terbesar, yang merupakan kelas yang paling sedikit jumlahnya dalam populasi daun. Dari Whitham, 1981.








Penelitian yang dilakukan oleh Craig et al. (1986) menunjukkan ketersediaan tunas pada berbagai kelas panjang tunas pada klon pohon willow arroyo, Salix lasiolepis (lingkaran terbuka), serta tingkat serangan lalat gergaji betina, Euura lasiolepis, yang menyebabkan penyakit empedu. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa lalat gergaji betina memiliki preferensi yang kuat terhadap tunas dengan kelas panjang terpanjang, meskipun tunas jenis ini merupakan yang paling jarang ditemukan dalam populasi tunas secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan adanya seleksi alamiah yang berpengaruh pada pola serangan lalat tersebut terhadap tunas pohon willow arroyo, terutama pada tunas dengan kelas panjang tertentu.


KOMUNIKASI

- Komunikasi adalah tindakan mentransmisikan informasi dari pemberi sinyal kepada penerima, yang melibatkan interaksi berupa stimulus-respons.

- Pada serangga, komunikasi sering terjadi melalui sinyal kimia, yang memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sinyal kimia ini membantu serangga untuk bertahan hidup, menemukan sumber makanan, dan mencari pasangan. Dengan mengirimkan dan menerima sinyal kimiawi, serangga dapat melakukan navigasi, menghindari ancaman, dan menemukan pasangan untuk berkembang biak, sehingga memastikan kelangsungan hidup spesies mereka.

Interaksi Tingkat Multitrofik


Price (1981), menggambarkan interaksi yang dimediasi secara semiokimia di antara anggota-anggota dari empat tingkat trofik, berdasarkan sejumlah contoh dalam literatur. Interaksi ini digambarkan melalui berbagai jenis garis dan anak panah, yang menunjukkan jenis respons antarorganisme. Garis tebal dengan anak panah padat menunjukkan ketertarikan terhadap stimulus tertentu, seperti pada kasus (1, 4, 11, dan 24). Sementara itu, garis tipis dengan anak panah terbuka menunjukkan tolakan terhadap stimulus, sebagaimana terlihat pada kasus (3, 13, 17, dan 26). Selain itu, garis tipis putus-putus digunakan untuk menggambarkan efek tidak langsung, seperti interferensi terhadap respons lain, contohnya pada kasus (2, 12, dan 19). Melalui pola-pola ini, terlihat bagaimana semiokimia berperan penting dalam mengatur interaksi ekologis antara organisme pada berbagai tingkatan trofik.


PERILAKU REPRODUKSI

Kumbang rusa, Chiasognathus granti, yang ditemukan di Chili selatan dan diilustrasikan dalam karya Darwin (1871), menunjukkan perbedaan mencolok antara jantan dan betina. Kumbang jantan memiliki rahang yang sangat besar, sementara betina memiliki rahang dengan ukuran normal. Ilustrasi dalam buku Darwin menampilkan jantan-jantan spesies ini dalam posisi bertahan di batang pohon, di mana perebutan posisi dapat menyebabkan salah satu jantan tergeser dan jatuh ke tanah. (diterbitkan kembali oleh Linsenmaier (1972).







Dalam bukunya The Descent of Man and Selection in Relation to Sex, yang diterbitkan pada tahun 1871, Darwin menyajikan ilustrasi yang menampilkan kumbang kotoran dan kumbang badak. Dalam gambar tersebut, kumbang jantan ditampilkan di sebelah kiri dengan tanduk besar yang mencolok, yang merupakan ekstensi dari kepala dan toraksnya. Keberadaan tanduk ini menunjukkan karakteristik yang berkembang melalui seleksi seksual untuk menarik perhatian betina atau bersaing dengan jantan lainnya. Sementara itu, kumbang betina yang berada di sebelah kanan digambarkan tanpa peralatan bertarung seperti tanduk, mencerminkan perbedaan morfologis yang signifikan antara kedua jenis kelamin. Ilustrasi ini menyoroti bagaimana perbedaan fisik dalam spesies tersebut terkait dengan strategi reproduksi yang berbeda antara jantan dan betina.




- Konsep seleksi seksual yang diperkenalkan Darwin (1871) mencakup dua bentuk utama yang berfokus pada peran berbeda dari masing-masing jenis kelamin yaitu:

- Bentuk pertama adalah persaingan antar pejantan untuk mendapatkan kesempatan kawin dengan betina, yang disebut sebagai seleksi intrasexual oleh Huxley (1938), di mana betina umumnya cenderung pasif.

- Bentuk kedua adalah pilihan aktif oleh betina terhadap pejantan yang dianggap berkualitas tinggi, berdasarkan atribut seperti ukuran tubuh, warna yang mencolok, atau kemampuan bertarung, yang menunjukkan kekuatan atau keunggulan lainnya. Seleksi ini dikenal sebagai seleksi epigamik yang diperkenalkan oleh Huxley. Kedua mekanisme ini berperan dalam membentuk karakteristik fisik dan perilaku di antara spesies, yang berevolusi untuk menarik pasangan atau mendominasi pesaing.



Hasil percobaan Bateman (1948) tentang variasi keberhasilan perkawinan jantan dan betina pada Drosophila melanogaster. Banyak jantan tidak memiliki pasangan, sedangkan hampir semua betina kawin setidaknya satu kali. Beberapa jantan memiliki tiga atau empat pasangan sedangkan sebagian besar betina hanya memiliki satu atau dua pasangan. Di bawah ini, perbedaan jumlah keturunan yang dihasilkan oleh tiga betina yang dikurung dengan tiga jantan jauh lebih sedikit bervariasi dibandingkan di antara tiga jantan. Penyebaran keberhasilan reproduksi di antara betina adalah sekitar 40 keturunan, tetapi kisaran di antara jantan mencapai 80 keturunan. Dimodifikasi dari Thornhill dan Alcock 1983.













- Proses seleksi seksual pada hewan umumnya menghasilkan variasi produk yang bervariasi, meskipun tidak semua produk tersebut dapat ditemukan pada kelompok serangga.


Pemilihan Intraseksual

Persaingan prakopulasi untuk mendapatkan akses ke calon pasangan. Keterampilan dalam mencari pasangan sangat penting dalam proses reproduksi hewan.

1. Pertama, kemampuan untuk menemukan lokasi pasangan yang tepat memainkan peran kunci dalam keberhasilan kawin.

2. produksi sinyal yang menarik dan efektif menjadi strategi utama untuk menarik perhatian calon pasangan, meningkatkan peluang untuk berinteraksi.

3. kompetensi agresif dalam mempertahankan wilayah dan teman juga berkontribusi terhadap keberhasilan reproduksi, memastikan akses yang eksklusif terhadap sumber daya yang dibutuhkan.

4. kapasitas untuk menghindari interaksi yang merusak dengan saingan sangat penting untuk menjaga kestabilan dalam hubungan sosial dan mencegah konflik yang dapat mengganggu proses pencarian pasangan.

Persaingan pascakopulasi untuk mendapatkan telur

- Penyembunyian pasangan merupakan strategi yang sering diterapkan oleh beberapa spesies hewan untuk melindungi pasangan dari gangguan pesaing.

- Dalam konteks ini, penjaga pasangan berperan penting untuk memastikan bahwa individu yang dijaga tetap aman dari ancaman luar.

- Selain itu, kemampuan untuk menemukan dan mengambil pasangan yang telah dilindungi dari pasangan aslinya menjadi taktik yang menarik, di mana individu jantan atau betina dapat memanfaatkan kelemahan pesaing untuk mendapatkan akses yang lebih baik.

- Di samping itu, kemampuan sperma untuk menggantikan ejakulasi pesaing juga merupakan faktor krusial dalam kompetisi reproduksi. Sperma yang lebih unggul tidak hanya harus mampu bersaing secara fisik, tetapi juga harus memiliki strategi biokimia yang efisien untuk meningkatkan peluang sukses dalam pembuahan.

Penghancuran zigot saingan setelah pembuahan

- Kemampuan untuk menginduksi aborsi telur yang telah dibuahi merupakan strategi reproduksi yang dapat ditemukan pada beberapa spesies hewan, di mana individu jantan atau betina berupaya untuk mengendalikan hasil reproduksi demi meningkatkan peluang keberhasilan genetik mereka.

- Selain itu, fenomena pembunuhan bayi juga terjadi pada beberapa spesies, di mana individu dewasa, baik jantan maupun betina, melakukan tindakan agresif terhadap keturunan untuk mengurangi kompetisi atau meningkatkan akses terhadap sumber daya yang terbatas.


Seleksi Epigamik Atau Interseksual

Diskriminasi pasangan berdasarkan jenis kelamin pemilih
Proses pemilihan pasangan dalam dunia hewan melibatkan beberapa strategi yang kompleks.

- Salah satunya adalah penolakan terhadap anggota spesies yang dianggap tidak sesuai atau salah, yang membantu memastikan bahwa individu yang dipilih memiliki kualitas genetik yang lebih baik.

- Selain itu, pemilihan pasangan sejenis yang unggul secara genetik menjadi penting untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup dan reproduksi keturunan.

- Individu juga cenderung memilih mitra yang memiliki sumber daya atau layanan yang berguna, seperti akses terhadap makanan atau perlindungan, yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan keturunan.

Atribut Yang Membuat Lawan Jenis Menarik Bagi Jenis Kelamin Yang Diskriminatif

- Perilaku courtship (pacaran) yang menarik merupakan elemen kunci dalam menarik perhatian lawan jenis dalam proses reproduksi hewan. Berbagai strategi yang digunakan selama interaksi ini, seperti tarian, suara, atau display visual, dirancang untuk menunjukkan kualitas individu yang ingin berkembang biak.

- Selain itu, karakter morfologis yang dianggap menarik, seperti warna bulu yang cerah atau ukuran tubuh yang besar, dapat menjadi indikator kesehatan dan kekuatan genetik, yang membuat individu tersebut lebih menarik di mata calon pasangan.

- Di sisi lain, manfaat materi, seperti akses ke sumber makanan atau perlindungan, juga berperan penting dalam menarik perhatian lawan jenis, karena hal ini menunjukkan kemampuan individu untuk memberikan dukungan yang dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup keturunan.

Strategi Menemukan Pasangan

- Dalam dunia hewan, Serangga khususnya jantan dari sebagian besar spesies memiliki tantangan besar untuk menemukan betina, dimana jantan harus bersaing dengan jantan lainnya demi mendapatkan pasangan.

- Strategi yang diambil oleh jantan dapat bervariasi; banyak di antara mereka berusaha menemukan betina secepat mungkin untuk menghindari persaingan yang ketat (Thornhill dan Alcock 1983). Contohnya terlihat pada lebah, tawon, dan semut, serta kupu-kupu dan kumbang, di mana jantan yang lebih awal menemukan betina di lokasi oviposisi (tempat bertelur).

- Di sisi lain, dalam beberapa spesies, betina cenderung lebih aktif mencari pasangan, terutama ketika perkawinan terjadi jauh dari tempat munculnya dan sumber makanan. Salah satu strategi yang umum digunakan adalah hilltopping, di mana jantan terbang menuju fitur topografi yang menonjol untuk mengawasi dan kawin dengan betina yang masih perawan (Virgin) yang melewati area tersebut.

- Dalam hal perilaku territorial, beberapa spesies jantan bersikap agresif dengan mengusir jantan lain dari wilayah mereka, sementara spesies lainnya memiliki jantan yang lebih bersifat patrolling di puncak bukit tanpa menunjukkan agresivitas.

- Kumpulan jantan yang tidak bergantung pada sumber makanan atau lokasi oviposisi disebut leks. Dalam sistem pertemuan ini, jantan berkumpul di area tertentu yang strategis, di mana mereka dapat menunjukkan karakteristik dan atribut fisik mereka kepada betina.





Para jantan beradu untuk memperebutkan wilayah kecil di lek, di kanan depan.Sekumpulan lalat buah Hawaii, Drosophila heteroneura, pada pohon pakis. Pakis hanya menyediakan area berkumpul, tanpa tempat bertelur, makanan, atau betina yang baru menetas.Seekor betina mengunjungi lek untuk mencari pasangan, kanan atas, dan sepasang yang sedang kawin digambarkan di sebelah kiri. Gambar oleh LS Kimsey (dalam Thornhill dan Alcock 1983).





Lokasi wilayah kekuasaan kupu-kupu merak jantan, di padang yang dilalui kupu-kupu merak betina untuk mencapai tempat bertelur.Perhatikan perbedaan keberhasilan jantan dalam memperoleh betina berdasarkan posisi teritorial. Dari Baker 1972a. Dicetak ulang dengan izin dari Publishing.


Memilih Pasangan

Bentuk pacaran

- Beberapa serangga memanfaatkan sinyal akustik sebagai bentuk komunikasi, seperti yang dapat kita temui pada jangkrik, tonggeret, dan belalang. Mereka menggunakan suara untuk menarik pasangan atau menandai wilayah.

- Selain itu, beberapa serangga, seperti laba-laba, mengandalkan getaran yang ditimbulkan di lokasi mangsa atau pasangan sebagai cara komunikasi dan deteksi.

- Ada pula serangga yang memberikan hadiah berupa makanan atau nutrisi (nuptial gifts) untuk menarik perhatian pasangan, seperti yang dilakukan oleh Hylobittacus apicalis dan beberapa spesies katydids. Cara-cara komunikasi ini sangat beragam dan bergantung pada kebutuhan spesifik masing-masing spesies dalam menjalankan proses reproduksi atau mencari mangsa.





Tepat setelah kawin, katydid betina, Requena verticalis, memiliki spermatofor besar yang ditempelkan pada pangkal ovipositornya oleh jantan (atas). Sang betina membungkuk untuk memegang spermatophylax yang bergizi (tengah), dan memakannya (bawah). Ampula yang berisi sperma tetap berada di tempatnya, melepaskan sperma, dan setelah selesai, ampula juga dimakan. Sang betina memperoleh sumbangan makanan yang besar dari sang jantan, yang mengakibatkan peningkatan ukuran dan kesuburan telur (Diadopsi dari Thornhill dan Gwynne 1986).


Pada proses kopulasi Bittacus planus, pemilihan pasangan terdiri dari beberapa fase yang kompleks.


Proses kopulasi Bittacus planus.
(A) Fase pencarian, si jantan melakukan penerbangan pendek untuk mencari betina di sekitarnya.

(B) Fase memanggil, si jantan menggerakkan kelenjar feromon seksnya yang bercabang dua di antara segmen VI dan VII dan segmen VII dan VIII dalam gerakan ritmis yang lambat untuk melepaskan feromon seks khusus spesies untuk menarik betina di dekatnya, panah menunjukkan kelenjar feromon seks jantan.

(C)-(F) Fase menempel (kiri: jantan; kanan: betina): (C) jantan menyajikan mangsa sebagai hadiah perkawinan kepada betina dengan kelenjar feromon seksnya masih terbalik dan memulai fase menempel;

(D) betina menerimamangsa perkawinan, dan mulai menilai ukuran dan kesukaannya sementara jantan mencoba mengulurkan perutnya untuk menemukan alat kelaminnya;

(E) betina menunjukkanhasrat kawinnya dengan menekuk perutnya ke belakang dan jantan membuat lobus epandrialnya terbuka lebar dan alat kelaminnya mengembang;

(F) jantan memutar perutnyasementara sepanjang sumbu longitudinalnya hingga 180u untuk beradaptasi dengan perkawinan tatap muka dengan betina dalam posisi tergantung, tanda panah menunjukkan puntiran perut jantan 180u.

Gambar dalam (A, B) dan (C-F) diambil dari pasangan yang berbeda. doi:10.1371/journal.pone.0080651.g001CE




Sistem dan Strategi Perkawinan

Berikut klasifikasi umum sistem perkawinan berdasarkan jumlah pasangan jantan dan betina.








Serangga Skala


Pada beberapa spesies serangga scale, "jantan" meninggalkan bagian tubuh khusus yang berfungsi sebagai "parasit" pada betina. Bagian tubuh ini bertindak menghasilkan sperma yang akan membuahi sel telur betina secara berkelanjutan. Menariknya, banyak spesies serangga scale yang bersifat hermafrodit dan memiliki kemampuan untuk melakukan pembuahan sendiri. Hal ini berarti satu individu serangga scale bisa sekaligus berperan sebagai ayah, ibu, kakek, dan nenek bagi generasi berikutnya.




Kompetisi sperma

seleksi intraseksual

Pada beberapa spesies serangga, mekanisme "sumbat kawin" digunakan untuk memastikan keberhasilan reproduksi dan menghindari kompetisi. Sumbat kawin ini terbentuk setelah kopulasi yang berlangsung cukup lama, di mana jantan memasukkan struktur khusus yang menghalangi betina dari kawin ulang dengan pejantan lain. Selanjutnya, jantan sering kali memasuki posisi tandem atau fase pasif di mana ia tetap dekat dengan betina sebagai bentuk penjagaan. Ada juga fase penjagaan non-kontak, di mana jantan tetap berada di sekitar betina tanpa menyentuhnya, demi mencegah pejantan lain mengambil alih. Strategi-strategi ini membantu menghindari pengambilalihan oleh pejantan saingan dan meningkatkan peluang keberhasilan reproduksi.

Strategi oleh: parker, 1970 dan Thornhill & Alcock, 1983.


Investasi orang tua (indukan) dan perawatan keturunan (Parental investment and care of progeny)

- Parental investment: "investasi apa pun yang dilakukan oleh induk pada keturunan individu yang meningkatkan peluang keturunan untuk bertahan hidup (dan karenanya keberhasilan reproduksi) dengan mengorbankan kemampuan induk untuk berinvestasi pada keturunan lainnya".

- Misalnya nuptial gifts yang juga merupakan investasi dari induk jantan, dimana spermatofor yang diberikan oleh kupu-kupu jantan ke betina digunakan dalam produksi telur, membantu memaksimalkan jumlah telur (Boggs dan Watt 1981), dan mempercepat pematangan telur awal ketika sumber serbuk sari jarang ditemukan pada kupu-kupu Heliconius dan Danaus




Bila kupu-kupu jantan, Heliconius cydno, baru saja kawin sedikit sebelum kawin dengan kupu- kupu betina, mereka akan menghasilkan spermatofor dalam jumlah besar. Akibatnya, kupu-kupu betina menunggu lebih lama untuk kawin lagi, dan bertelur lebih banyak yang dibuahi oleh sperma jantan, dibandingkan dengan waktu tunggu setelah kawin dengan kupu-kupu jantan yang telah kawin dengan banyak kupu-kupu betina. Data by C. L. Boggs. From Thornhill and Alcock 1983. Reprinted by permission of the publisher from THE EVOLUTION OF INSECT MATING SYSTEMS by Randy Thornhill and John Alcock, p. 384, Cambridge, Mass.: Harvard University Press, Copyright # 1983 by the President and Fellows of Harvard College.

Share:

Blogger news

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Cari Blog Ini