Berbagi ilmu... Ilmu untuk semua...

REPRODUKSI SERANGGA.4

SISTEM REPRODUKSI DAN FUNGSINYA

- Sistem reproduksi jantan pada hewan berfungsi untuk menghasilkan sperma dan mentransfernya ke betina dari spesies yang sama. Proses ini memungkinkan sperma untuk bertemu dengan sel telur di dalam tubuh betina, sehingga terjadi fertilisasi. 

- Sistem reproduksi betina berfungsi untuk menghasilkan telur  (Ovum) dan menyediakan tempat bagi fertilisasi. Setelah proses pembuahan berhasil, betina akan meletakkan hasilnya di lingkungan, berupa telur yang berkembang di luar tubuh atau bayi yang dilahirkan jika hewan tersebut termasuk yang berkembang biak secara vivipar. Kedua sistem ini bekerja sama untuk menjaga keberlanjutan spesies.


SISTEM REPRODUKSI JANTAN

- Aedeagus adalah organ reproduksi jantan yang berfungsi untuk mengeluarkan atau menyalurkan sperma selama proses kopulasi.  Struktur aedeagus dapat bervariasi antara spesies, namun fungsinya tetap sama, yaitu sebagai alat yang memungkinkan transfer gamet jantan secara efisien selama reproduksi.


SISTEM REPRODUKSI BETINA



Terdapat beberapa tipe ovarium pada serangga, yaitu: panoistik dan meroistik. 

- Panoistik ovaries, adalah ovarium sederhana yang tidak memiliki sel pendukung khusus, sehingga semua sel berkembang menjadi oosit. 

- Meroistik ovaries, sebaliknya, memiliki sel pendukung (nurse cells) yang membantu perkembangan oosit dan terbagi menjadi dua jenis: Telotrofik dan Politrofik. Pada telotrofik ovaries, sel pendukung tetap berada di daerah germarium dan terhubung dengan oosit melalui filamen sitoplasma. Sedangkan pada politrofik ovaries, sel pendukung mengikuti oosit dalam setiap folikel, memberikan nutrisi langsung selama proses perkembangan.


REPRODUKSI SEKSUAL




REPRODUKSI ASEKSUAL

Partenogenesis adalah suatu bentuk reproduksi aseksual di mana embrio berkembang tanpa adanya proses fertilisasi oleh sel sperma. Dalam mekanisme ini, oosit atau sel telur mampu tumbuh dan berkembang menjadi individu baru tanpa perlu dibuahi.  Proses ini memungkinkan spesies untuk memperbanyak keturunan secara cepat dan efektif, terutama dalam kondisi lingkungan yang tidak stabil atau ketika jantan tidak tersedia. 


STRUKTUR TELUR


- Secara umum, telur serangga bentuknya ovoid memanjang dengan ujung yang membulat dan memiliki ukuran yang bervariasi. 

- Bagian luarnya disebut chorion, yang merupakan lapisan pelindung yang disekresikan oleh sel-sel folikel dari ovarium. 

- Pada bagian ujung anterior, terdapat struktur kecil yang disebut mycropyle, yaitu lubang yang berfungsi sebagai jalan masuk bagi sperma. 

- Terdapat pula aeropyle, berupa pori-pori kecil berukuran 1 hingga beberapa mikrometer, yang berfungsi sebagai jalur pertukaran gas, yakni untuk masuknya oksigen dan keluarnya karbon dioksida.


Bagin-Bagian Telur

Bagian-bagian telur terdiri dari beberapa lapisan dan komponen penting. 


- Di bawah membran vitelline terdapat lapisan yang disebut periplasma, yang mengelilingi komponen lain dari telur. 

- Tepat di bawah chorion, terdapat membran vitelline yang berfungsi sebagai pelindung. 

- Substansi terbesar dalam telur adalah yolk, yang kaya akan nutrisi berupa lipid, protein, dan karbohidrat, sebagai sumber energi utama. 

- Di sekitar inti telur, terdapat area yang bebas dari yolk, yang biasanya terletak di bagian anterodorsal.


Ootecha

Pada serangga dari kelompok Orthoptera, seperti belalang, mantis, dan kecoa, terdapat struktur pelindung telur yang disebut ootheca. Ootheca ini berfungsi untuk melindungi telur-telur yang dikeluarkan dalam kelompok, memberikan perlindungan dari lingkungan eksternal dan predator. Setiap ootheca mengandung beberapa telur yang tersusun rapi, memungkinkan embrio berkembang dengan lebih aman hingga waktunya menetas.




Modifikasi Telur

- Plastron adalah struktur khusus yang ditemukan pada serangga air, terutama yang hidup di daerah lembab. Fungsinya adalah untuk menjamin respirasi dengan menjaga ketersediaan oksigen meskipun serangga berada di lingkungan yang basah.

- Di sisi lain, terdapat struktur yang disebut hydropyle, yang umumnya ditemukan pada serangga daratan. Hydropyle berperan penting dalam proses penyerapan air, memastikan bahwa telur atau embrio tetap mendapatkan kelembapan yang cukup untuk perkembangan yang optimal.


Fertilisasi

Pada proses fertilisasi, sperma yang sebelumnya disimpan oleh betina dalam struktur yang disebut spermatheca akan dilepaskan tepat pada saat fertilisasi.

- Setelah terjadi fertilisasi, inti telur melanjutkan proses meiosis, menghasilkan dua atau tiga badan polar dan satu pronucleus haploid. 

- Pronucleus ini kemudian bermigrasi ke bagian depan telur, sementara badan polar tetap berkelompok di permukaan oosit. Pronukleus betina lalu bersatu dengan satu pronukleus dari sperma, membentuk zigot diploid yang akan memulai perkembangan embrionik.


TELUR DAN PERKEMBANGAN EMBRIO

- Serangga umumnya merupakan hewan diploid yang berkembang biak secara seksual dan bersifat ovipar, yaitu meletakkan telurnya. 

- Telur serangga disebut centrolecithal, yang berarti mengandung yolk atau kuning telur dalam jumlah besar. Pada telur centrolecithal, pembelahan berlangsung secara meroblastik atau superfisial, yaitu hanya sebagian dari sel telur yang mengalami pembelahan. 

- Sebaliknya, pada hewan seperti Collembola dan Myriapoda, telur disebut microlecithal karena memiliki yolk yang sedikit. Pembelahan pada telur microlecithal ini bersifat holoblastik, artinya pembelahan terjadi secara keseluruhan pada telur tersebut.


Pembentukan Blastoderm

- Pembentukan blastoderm dimulai dengan pembelahan mitosis dari zigot, di mana inti yang terbentuk dikelilingi oleh sitoplasma tanpa membran sel. Proses ini menghasilkan penyebaran hasil pembelahan yang membentuk periplasma, yang menutupi permukaan yolk, sehingga terbentuklah syncytial blastoderm. 

- Setelah setiap inti dikelilingi oleh membran sel, maka terbentuklah blastoderm yang memiliki ketebalan 1 sel. Di dalam proses ini, beberapa sel akan tetap berada di dalam yolk sebagai vitellophages, yang berfungsi untuk mencerna yolk dan menyediakan nutrisi bagi perkembangan embrio.


Pembentukan Lapisan Germ

- Sepanjang garis midventral, blastoderm mengalami penebalan menjadi 1 lapisan sel columnar yang menghasilkan germ anlage, sementara bagian lainnya membentuk membran tipis yang melingkupi yolk. Di bagian posterior telur, sekelompok sel bermigrasi melalui daerah khusus yang disebut oosome, yang kemudian akan menjadi primordial germ cells (sel kelamin). 

- Membran dari blastoderm selanjutnya berkembang menjadi serosa dan amnion, yang melingkupi yolk serta melipat untuk membungkus germ band. Proses ini mengarah pada pembentukan germ band yang akan membentuk dua lapisan utama, yaitu ektoderm dan mesoderm. 

Ektoderm, mesoderm, dan endoderm adalah tiga lapisan germinal yang berperan penting dalam perkembangan embrio. 

Ektoderm: akan berkembang menjadi epidermis, kelenjar eksokrin, serta struktur sistem saraf dan otak. Selain itu, ektoderm juga membentuk organ peraba, bagian awal dan akhir dari sistem pencernaan (foregut dan hindgut), sistem respirasi, dan genital eksternal. 

Mesoderm: Bertanggung jawab untuk pembentukan jantung, sistem sirkulasi (peredaran darah), serta jaringan otot dan kelenjar endokrin. 

Mesoderm: Bertanggung jawab untuk pembentukan jantung, darah, sistem sirkulasi (pertukaran gas O2 dan CO2), otot, kelenjar endokrin, badan lemak dan gonad  (ovarium dan testes). 

Endoderm: berperan dalam pengembangan midgut, yang berfungsi sebagai bagian penting dari sistem pencernaan. 



PERKEMBANGAN PASCA EMBRIO

- Perkembangan pascaembrio pada serangga dimulai saat mereka menetas dari telur. Dalam tahap ini, serangga dapat dibedakan menjadi dua jenis perkembangan berdasarkan jumlah segmen tubuhnya: Jika jumlah segmen yang dimiliki serangga saat menetas sama dengan jumlah segmen saat dewasa, proses ini disebut epimorphic. Namun, jika jumlah segmennya bertambah setelah menetas, maka disebut anamorphic. 

- Selama perkembangan ini, serangga akan mengalami siklus molting yang berulang, di mana mereka secara berkala mengganti kulit untuk tumbuh. 

- Antara setiap proses molting, bentuk serangga disebut instar, yang ditentukan berdasarkan angka dan mencerminkan tahap perkembangan mereka sebelum mencapai bentuk dewasa.


Tipe Metamorfosis

Metamorfosis pada serangga terbagi menjadi beberapa tipe berdasarkan tahapan perkembangan yang mereka alami yaitu: Pada tipe ametabola, hemimetabola, holometabola.

- Ametabola: serangga tidak mengalami metamorfosis, sehingga bentuknya hampir tidak berubah dari fase muda hingga dewasa. 

- Hemimetabola: atau metamorfosis tidak sempurna, mencakup serangga yang memiliki fase nimfa sebagai tahap sebelum dewasa. Nimfa memiliki kemiripan bentuk dengan serangga dewasa, meskipun ukurannya lebih kecil dan biasanya belum memiliki organ reproduksi yang matang. 

- Holometabola: atau metamorfosis sempurna, serangga melewati fase larva yang sangat berbeda dari bentuk dewasa. Pada tahap ini, larva mengalami reorganisasi histologi yang intensif, di mana struktur tubuh larva berubah sepenuhnya sebelum akhirnya bertransformasi menjadi serangga dewasa. Tipe metamorfosis ini memungkinkan perubahan fisik yang drastis antara fase larva dan dewasa.


Hormon Yang Terlibat Pada Metamorfosis

Metamorfosis pada serangga dikendalikan oleh berbagai hormon yang bekerja bersama untuk mengatur perubahan dari tahap satu ke tahap lainnya. 

- Salah satu hormon utama adalah Prothoracicotropic Hormone (PTTH), hormon peptida yang dihasilkan oleh sel-sel neurosekretori di otak (brain). PTTH merangsang produksi hormon berikutnya, yaitu; 

- Ecdysone, yang merupakan hormon steroid yang dihasilkan oleh kelenjar protoraks. Ecdysone memainkan peran penting dalam menginduksi proses molting atau pergantian kulit pada serangga, yang memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang ke tahap berikutnya. 

- Juvenile Hormone (JH), sebuah sesquiterpene yang dihasilkan oleh corpora allata. JH berfungsi untuk mempertahankan ciri-ciri juvenil pada serangga dan menghambat perkembangan ke tahap dewasa; dengan kadar JH yang tinggi, serangga tetap berada dalam fase larva atau nimfa.

gambar


- Prothoracicotropic hormone (PTTH) berperan penting dalam mengatur berbagai proses fisiologis pada serangga, termasuk meregulasi konsentrasi gula darah (dalam bentuk trehalosa), pergerakan lipid di dalam darah melalui adipokinetic hormone, serta mengatur detak jantung dan aktivitas tubulus Malpighi. Selain itu, PTTH juga menstimulasi kelenjar prothoracic untuk mensintesis ecdysteroid, Hormon yang berperan dalam proses molting dan perkembangan serangga. 

- Hormon eclosion memicu sistem saraf pusat untuk memulai rangkaian perilaku yang diperlukan selama ecdysis. 

- Setelah ecdysis, hormon bursicon berperan dalam proses sklerotinasi, yang mengeraskan kutikula serangga. 

- Selain itu, hormon peptida diuretic dan antidiuretic bekerja mengontrol keseimbangan air dalam tubuh serangga, menjaga homeostasis cairan agar tetap optimal.

- Ecdysone, hormon penting dalam proses metamorfosis pada serangga, disintesis dari kolesterol atau steroid serupa yang diperoleh melalui makanan. Setelah disintesis, ecdysone diubah menjadi bentuk aktifnya, yaitu 20-hydroxyecdysone (juga dikenal sebagai ecdysterone atau 20-E), oleh organ-organ seperti badan lemak, saluran pencernaan, dan tubulus Malpighi. Hormon ini, bersama dengan variasi lainnya, dikenal sebagai ecdysteroid. 

- Ecdysteroid berfungsi memulai proses molting pada epidermis dan menstimulasi diferensiasi jaringan imaginal, yang akan berkembang menjadi struktur tubuh serangga dewasa. 

- Di sisi lain, Juvenile Hormone (JH) mengatur metabolisme untuk mendukung pertumbuhan, mempertahankan karakteristik larva selama selama siklus molting, serta menghambat metamorfosis. Pada serangga dewasa, JH memiliki peran tambahan, yaitu menstimulasi vitellogenesis (pembentukan kuning telur) pada betina dan menstimulasi kelenjar aksesori pada jantan, yang penting untuk reproduksi.


SIKLUS HIDUP

- Perkembangan individu serangga, mulai dari tahapan telur hingga menghasilkan telur kembali, sangatlah bervariasi tergantung pada siklus hidup dan perilaku adaptasi misamnya. 

- Di negara-negara beriklim 4 musim, banyak serangga yang hanya menjalani 1 generasi dalam setahun, yang disebut univoltine. 

- Serangga univoltine ini menyesuaikan siklus hidupnya dengan perubahan musim di lingkungannya. Misalnya, larva pemakan daun mungkin akan muncul setelah musim dingin, ketika daun mulai tumbuh kembali. Beberapa serangga melewati musim dingin dalam kondisi dorman melalui proses diapause, suatu bentuk istirahat fisiologis untuk bertahan hidup dalam suhu ekstrem. 

- Sebaliknya, ada pula serangga multivoltine, yang dapat menghasilkan beberapa generasi dalam satu tahun, sehingga berbagai tahap perkembangan serangga ini dapat ditemukan di waktu yang sama sepanjang tahun. Adaptasi ini memungkinkan serangga untuk memaksimalkan potensi reproduksi dan bertahan di lingkungan yang lebih stabil.

Alternation of generations: yaitu kemampuan untuk bereproduksi secara seksual dan aseksual tergantung pada kondisi musim. Pada serangga seperti ini, ada variasi dalam pola reproduksi dan perilaku yang memungkinkan mereka beradaptasi dengan lingkungan yang berubah-ubah. Siklus hidup ini sering kali melibatkan perubahan inang, terutama bagi serangga parasit yang bergantung pada berbagai organisme untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Selain itu, mereka mungkin menunjukkan pergantian bentuk morfologi, seperti fase bersayap yang membantu penyebaran ke tempat baru atau fase tanpa sayap yang lebih efisien untuk bertahan pada satu inang. Perubahan sumber nutrisi juga bisa terjadi, menyesuaikan dengan ketersediaan makanan pada musim tertentu. Fleksibilitas ini memberi keuntungan bagi serangga dalam mengatasi fluktuasi lingkungan dan memastikan kelangsungan hidup spesiesnya.



Share:

ANATOMI SERANGGA: Saluran Pencernaan, Sistem Trakea dan Pertukaran Gas, Sistem Peredaran, Ekskretori, Otot dan Pergerakan.3

Oleh: Rohim 

(Mahasiswa Sem 5 Biologi UIN Bandung) 

Serangga menjalani kelangsungan hidupnya dengan dipengaruhi oleh dinamika alami yang melibatkan metabolisme internal dan hubungan eksternal, terutama dalam proses makan dan simbiosis nutrisi yang terjadi. Dalam proses ini, beberapa sistem tubuh bekerja secara terkoordinasi. 


1. Sistem pencernaan, memainkan peran utama dalam pemecahan makanan untuk menyerap nutrisi.

2. Sistem respirasi, memastikan suplai oksigen yang cukup untuk mendukung metabolisme. 

3. Sistem sirkulasi, mengedarkan nutrisi dan gas ke seluruh tubuh serangga. 

4. Sistem ekskretori, proses pembuangan limbah agar tubuh tetap bersih dari zat-zat beracun. 

5. Sistem saraf.

5. Sistem pergerakan, memungkinkan serangga berpindah tempat untuk mencari makanan dan menghindari bahaya. 

6. Thermoregulasi, membantu menjaga suhu tubuh agar tetap stabil di berbagai kondisi lingkungan. 


SSISTEM PENCERNAAN

Sistem pencernaan serangga, yang disebut alimentary canal merupakan saluran yang menghubungkan mulut hingga anus dan dilengkapi dengan salivary glands serta salivary reservoirs yang berfungsi dalam produksi dan penyimpanan air liur. 

Saluran ini terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu: 

Foregut (stomodeum) adalah bagian awal yang berfungsi dalam proses awal pencernaan, termasuk pengunyahan dan pengangkutan makanan. 

Midgut (mesenteron) adalah bagian tengah yang menjadi tempat utama untuk pencernaan dan penyerapan nutrisi. 

Hindgut (proctodeum) merupakan bagian akhir yang berperan dalam pembentukan dan pembuangan sisa-sisa makanan. 


Bagian-Bagian dari Saluran Pencernaan Serangga

Saluran pencernaan serangga terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fungsi spesifik. 

- Preoral cavity, adalah ruang tertutup yang terletak di antara labrum dan labium serta dilengkapi dengan sepasang mandibula dan maksila. Ruang ini terdiri dari dua bagian utama yaitu: cibarium, merupakan area antara dinding bagian dalam labrum (epifaring) dan hipofaring, serta salivarium tempat air liur dikeluarkan ke makanan. Setelah melewati preoral cavity, makanan masuk ke dalam foregut.

- foregut,   terdiri dari beberapa bagian, yaitu pharynx, esophagus, crop, proventriculus, dan cardiac valve. Pada bagian ini, makanan disimpan dan mengalami proses pencernaan awal. 

- Kemudian, makanan berlanjut ke midgut, yang dapat berupa tabung sederhana atau bervariasi tiap spesies. Pada beberapa serangga, bagian ini dilengkapi dengan gastric caeca yang berfungsi memperluas area pencernaan dan meningkatkan penyerapan nutrisi. 



- Antara midgut dan hindgut terdapat tubulus Malpighi, yang berfungsi sebagai organ ekskresi pada serangga untuk membuang limbah metabolik dari tubuh. *

- Hindgut pada serangga dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu:

anterior intestine dan posterior intestine.  Bagian anterior intestine terdiri dari ileum dan kolon, yang berperan dalam proses penyerapan air dan zat-zat penting yang masih tersisa. Sedangkan posterior intestine, atau biasa disebut rektum, bertugas mengatur keseimbangan air dan elektrolit sebelum sisa pencernaan dikeluarkan dari tubuh.


Gut Adalah Bagian Saluran Pencernaan Tempat Hampir Semua Proses Pencernaan Terjadi. 

Foregut 

- Foregut atau usus depan secara ontogenetik berasal dari stomodaeum ektodermal;

- dilapisi oleh kutikula yang terdiri dari kitin dan protein. 

- Struktur utama yang termasuk dalam foregut meliputi buccal cavity (mulut), faring, esofagus, tembolok (crop), dan proventriculus.  


Midgut (mesenteron)

Terdapat banyak mikrovili yang berfungsi untuk memperluas area permukaan, sehingga memperbesar efisiensi penyerapan nutrisi.







Hindgut (proctodaeum) 

- Tempat sisa makanan yang tidak tercerna, bersama dengan asam urat (urin acid) yang berasal dari tubulus malpighi, membentuk pelet feses yang dikeluarkan melalui anus. 

- Pada bagian hindgut ini juga terdapat membran peritrophic, yaitu struktur membran yang tersusun dari kitin dan protein. Membran peritrophic (MP) berfungsi untuk melindungi jaringan midgut dari gesekan (aberasi) makanan dan paparan mikroorganisme, sekaligus MP juga dapat meningkatkan efisiensi pencernaan dan mengurangi terbuangnya enzim.


SISTEM RESPIRASI 

- Sistem respirasi pada serangga bekerja dengan mengangkut oksigen untuk respirasi seluler melalui sistem internal yang disebut trakea. 

- Trakea ini terdiri dari jaringan saluran bercabang yang saling berhubungan dan merupakan invaginasi dari integumen, bermula dari lubang-lubang kecil yang disebut spirakel dan berakhir pada struktur halus yang disebut trakeola.


Spirakel

- Spirakel sendiri terdiri dari dua bagian, yaitu atrium yang berhubungan dengan lingkungan luar dan peritreme yang berhubungan dengan bagian dalam. 

- Spirakel menghubungkan trakea dengan lateral trunks (saluran yang memanjang secara longitudinal) serta tracheal commissures yang berfungsi sebagai penghubung transversal antar saluran trakea. 

- Bagian trakea yang permeable (dapat ditembus oleh gas) disebut intima, yang membentuk gulungan spiral bernama taenidia (memberikan fleksibilitas dan kekuatan pada trakea).

- Selain itu, trakea dapat berdilatasi dan membentuk air sac atau kantung udara, yang membantu meningkatkan efisiensi pertukaran gas selama proses respirasi.


- Percabangan yang berulang dari trakea menghasilkan saluran-saluran kecil dengan panjang sekitar 350 μm (mikro meter ) dan diameter 1 μm, yang dikenal sebagai trakeola (Trakeola ini berfungsi sebagai ujung dari sistem trakea, memungkinkan oksigen mencapai sel-sel tubuh secara langsung). 

- Trakea dilapisi oleh lapisan multiseluler, sedangkan trakeola mengandung lapisan intraseluler yang disebut tracheoblast cell (Tracheoblast cell ini berperan penting dalam mempertahankan struktur dan fungsi trakeola, memungkinkan proses pertukaran gas berlangsung dengan efisien pada serangga). 



Serangga memiliki sistem pernapasan yang bervariasi, tergantung pada tipe spirakel atau lubang pernapasan yang ada pada tubuhnya. Berdasarkan jumlah dan fungsi spirakel, tipe serangga dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: holopneustic, hemipneustic, dan apneustic


A. Holopneustic: adalah tipe serangga yang memiliki 10 pasang spirakel yang berfungsi, memungkinkan pertukaran udara secara efisien di seluruh tubuh. 

B. Hemipneustic: memiliki satu pasang atau lebih spirakel yang tidak berfungsi, sehingga hanya beberapa spirakel yang aktif dalam proses pernapasan. 

C. Apneustic: adalah tipe serangga yang tidak memiliki spirakel yang berfungsi sama sekali, sehingga bergantung pada sistem lain untuk memenuhi kebutuhan oksigennya.



Serangga Air 

serangga air memiliki adaptasi unik untuk memenuhi kebutuhan oksigennya di lingkungan perairan. Salah satu cara pernapasan mereka yaitu melalui:

- cutaneus gas exchange: yaitu pertukaran gas melalui permukaan tubuh.  

- tracheal gill: di mana oksigen berdifusi melalui kutikula dan masuk ke dalam trakeola yang berisi gas. 

- physical gill: yaitu penggunaan gelembung udara yang dibawa oleh serangga saat menyelam, membantu mereka bernapas di dalam air.

- plastron: struktur yang terdiri dari sejumlah rambut yang membengkok, yang mampu mempertahankan (membawa) lapisan udara di permukaan tubuh mereka. 

- spiracular gills: yang berhubungan dengan plastron yang di bangun (dibentuk) oleh produk dari kutikula, memungkinkan oksigen tetap tersuplai meskipun berada di dalam air.




SISTEM SIRKULASI

pada serangga termasuk dalam kelompok sistem sirkulasi (sistem peredaran darah) terbuka, di mana darah yang sering disebut hemolimf, mengalir bebas dalam rongga tubuh dan berhubungan langsung dengan organ serta jaringan internal. 

Hemolimf berperan penting dalam perpindahan (distribusi) nutrisi, garam, hormon, dan pembuangan sisa metabolisme. 


Selain itu, sistem sirkulasi ini juga berfungsi dalam pertahanan tubuh: misalnya dengan menutup luka melalui pembekuan (clotting), pembentukan kapsul untuk perlindungan, serta membunuh patogen. Pada beberapa serangga, hemolimf bahkan dapat menghasilkan zat yang tidak enak untuk mengusir predator. 

Fungsi lain dari sistem sirkulasi ini adalah pengaturan tekanan hidrostatik, yang penting untuk kontraksi otot, proses penetasan, molting, pembesaran tubuh dan sayap setelah molting, serta membantu dalam pergerakan dan reproduksi. 

Hemolimf juga berperan dalam pengaturan suhu tubuh serangga agar tetap stabil.


Hemolimf:

- Hemolimf pada serangga terdiri dari 90% plasma, yang berwarna jernih meskipun kadang berwarna kehijauan atau kekuningan. 

- Jika dibandingkan dengan darah pada vertebrata, hemolimf serangga mengandung lebih banyak asam amino, protein, gula, dan ion anorganik. 

- Saat musim dingin, kadar senyawa seperti ribulosa, trehalosa, atau gliserol dalam hemolimf meningkat untuk mencegah pembekuan. 

- Selain plasma, hemolimf juga mengandung 10% sel darah atau hemosit yang berfungsi dalam proses pembekuan (clotting), fagositosis, dan enkapsulasi. Jumlah hemosit bervariasi (berfluktuasi) antara 25.000 hingga 100.000 per mm³.


Organ Accessory Pulsatile 

- Organ Accessory Pulsatile berfungsi untuk mengalirkan darah ke berbagai bagian tubuh, membantu sirkulasi darah pada bagian-bagian tertentu agar tetap mendapatkan suplai yang cukup. 

- Organ ini ditemukan pada beberapa bagian tubuh serangga, seperti sayap, antena, dan kaki.




SISTEM EKSKRETORI

Sistem ekskresi pada serangga melibatkan Tubulus Malpighi yang bekerja bersama dengan hindgut untuk mengeluarkan produk buangan yang mengandung nitrogen. Tubulus Malpighi ini langsung mengosongkan limbah ke saluran pencernaan pada area antara midgut dan hindgut.

Jumlah tubulus ini bervariasi, mulai dari 2 hingga 100, tergantung spesiesnya. Bentuknya yang mirip tentakel atau lengan gurita memungkinkan Tubulus Malpighi memanjang dan menjangkau berbagai bagian tubuh serangga, sehingga efektif dalam mengumpulkan dan membuang sisa metabolisme nitrogen.



Sistem ekskretori memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan internal tubuh, dengan cara:

Mengatur keseimbangan air dan ion dalam tubuh, yang penting untuk menjaga kestabilan cairan dan elektrolit. 

Selain itu, sistem ekskretori juga berperan dalam membuang sisa-sisa nitrogen yang dihasilkan dari proses metabolisme protein. Sisa nitrogen ini dikeluarkan dalam beberapa bentuk, yaitu: 

- Amonia: merupakan produk buangan yang paling sederhana, tetapi juga paling beracun, sehingga biasanya langsung diubah menjadi urea di hati. 

- Urea dan asam urat (Uric acid):  kemudian dikeluarkan melalui ginjal sebagai bagian dari urin, membantu tubuh menghindari penumpukan zat beracun dan menjaga kesehatan secara keseluruhan.


SISTEM SARAF 

- Sistem saraf pada serangga terletak di bagian ventral (bawah tubuh), berbeda dengan vertebrata yang sistem sarafnya berada di bagian dorsal. Sistem saraf serangga terdiri dari dua saraf utama yang saling terhubung dan dilengkapi dengan beberapa ganglia, yaitu kumpulan sel saraf yang berfungsi sebagai pusat pengatur aktivitas tubuh. 


- Pada bagian depan dari ganglia disebut subesophageal ganglion, yang berperan penting dalam mengendalikan aktivitas makan dan gerakan mulut serangga. Di atasnya, pada bagian dorsal, terdapat otak serangga yang disebut supraesophageal ganglion. Otak ini berfungsi sebagai pusat kendali utama yang memproses informasi dari lingkungan dan mengoordinasikan respons serangga terhadap rangsangan.



SISTEM PERGERAKAN

- Pada serangga melibatkan otot-otot bergaris melintang yang memungkinkan mereka untuk melakukan berbagai gerakan. 

- Otot-otot ini terhubung ke rangka luar atau eksoskeleton serangga melalui struktur khusus yang disebut tonofibrillae, yang dihasilkan oleh sel epidermal. Fungsinya sebagai perantara antara otot dan rangka, sehingga memungkinkan gerakan yang kuat dan terarah. Dengan bantuan tonofibrillae, otot serangga dapat menarik atau menggerakkan bagian tubuh secara efisien, yang penting untuk aktivitas sehari-hari seperti berjalan, terbang, dan menangkap mangsa.



THERMOREGULASI

Thermoregulasi pada serangga menunjukkan adaptasi unik yang memungkinkan mereka untuk bertahan di berbagai kondisi suhu. 

- Serangga ectothermic mengandalkan lingkungan luar untuk mengatur suhu tubuhnya, dengan cara menyerap panas dari lingkungan sekitarnya. 

- Sebaliknya, serangga endothermic mampu mempertahankan suhu tubuh di atas batas lingkungan dengan memanfaatkan panas yang dihasilkan dari proses metabolisme. 

- Misalnya, bangsa lebah dapat menjaga suhu sarangnya antara 20 hingga 30 ºC, meskipun suhu luar mencapai titik beku, yaitu sekitar 0 ºC, dengan memanfaatkan panas yang dihasilkan oleh metabolisme tubuh lebah. 

- Selain itu, banyak serangga yang mengalami diapause, yaitu kondisi fisiologis yang membantu mereka bertahan saat menghadapi suhu dingin ekstrem yang terjadi secara reguler.

- Hemolimf serangga juga mengandung glukosa, trehalosa, lipid dengan berat molekul rendah, dan sorbitol, yang memberikan perlindungan tambahan terhadap pembekuan. Namun, serangga tidak memiliki zat kimia alami yang setara dengan gliserol sebagai zat anti beku, sehingga mereka mengandalkan kombinasi mekanisme tersebut untuk bertahan dalam cuaca ekstrem.


Share:

ANATOMI SERANGGA: Eksoskeleton, Kutikula, proses molting.2

Integumen Serangga

Integumen serangga terdiri dari lapisan kutikula yang memiliki fungsi diantaranya:

- Sebagai penutup luar tubuh dan berperan penting dalam menentukan bentuk, ukuran, dan warna tubuh;

- kutikula merupakan salah satu faktor utama yang mendukung keberhasilan adaptasi serangga dalam berbagai lingkungan; 

- lapisan ini menyediakan kerangka luar yang kuat bagi tubuh dan anggota tubuh lainnya, serta menjadi penyangga internal (apodem) untuk perlekatan otot dan sayap. Selain itu, kutikula berperan sebagai penghalang pelindung antara jaringan hidup serangga dengan lingkungan luar.

Kutikula serangga terbagi menjadi beberapa lapisan penting, yaitu epikutikula, eksokutikula, dan endokutikula. 

-Epikutikula berfungsi untuk sifat impermeabiliti, dan kemampuanya dalam mencegah hilangnya air melalui penguapan (evaporasi) sehingga membantu serangga mempertahankan kelembaban tubuh. 

-Eksokutikula memberikan sifat kekakuan pada bagian tubuh yang keras, seperti pada kapsul kepala, sehingga mampu melindungi organ-organ penting. 

-Endokutikula berperan dalam memungkinkan pembesaran integumen serta menyediakan keseimbangan antara kekerasan dan fleksibilitas pada tubuh serangga.


Dinding tubuh serangga  (integumen) terdiri dari tiga komponen dasar yaitu:


- non-seluler kutikula yang kokoh dan terletak paling luar

- epidermis yang terdiri dari satu lapisan sel

- membran dasar yang merupakan bagian terdalam dari jaringan ikat. 

- Kutikula terdiri dari beberapa lapisan, termasuk epikutikula yang memiliki ketebalan sekitar 1 hingga 4 μm (mikrom meter). Epikutikula ini tersusun dari lapisan dalam hingga luar, meliputi epikutikel dalam, epikutikel luar (atau lapisan kutikulin), lapisan lipid atau lilin, serta lapisan semen yang bervariasi.

Di bawah epikutikula terdapat prokutikula, dengan ketebalan yang berbeda-beda dari 10 μm hingga 0,5 mm, yang sebagian besar tersusun dari kitin yang berikatan dengan protein. 

Kutikula ini dihasilkan oleh lapisan epidermis tunggal, yang disebut juga hipodermis karena letaknya di bawah kutikula. Struktur ini memberikan kekuatan, fleksibilitas, dan perlindungan bagi tubuh serangga, membantu mereka bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan.


Cuticular sensilla

Sensillia adalah unit struktural dan fungsional dasar dari mekanoreseptor dan kemoreseptor pada kutikula. Sensilla ini terdiri dari komponen kutikula, seperti seta yang terbentuk dari lapisan kutikula, dan saraf sensorik atau neuron yang berfungsi untuk mengirimkan sinyal ke sistem saraf. Setiap sensilla memiliki peran khusus dalam mendeteksi rangsangan mekanis atau kimia dari lingkungan eksternal, yang kemudian diproses sebagai respons sensori. 


Kandungan Kutikula

Serangga mengandung berbagai komponen penting seperti kitin, protein seperti sklerotin dan resilin, serta senyawa lain seperti lime. 

- Kitin merupakan komponen kutikula paling besar yang mencapai 50% dari kandungannya; 

- Kitin tersusun dari polisakarida yang mengandung nitrogen dan memiliki sifat fleksibel (tidak menyebabkan pengerasan pada kutikulas), terutama ditemukan di endokutikula yang mudah membesar, sedangkan hanya sedikit ditemukan di eksokutikula dan tidak ada di epikutikula; 

- di endokutikula, kitin membentuk fibril yang orientasinya bervariasi pada setiap jenis serangga, dengan fibril-fibril yang diikat oleh matriks protein;


kitin adalah senyawa yang ditemukan sebagai elemen pendukung utama pada dinding sel jamur dan eksoskeleton arthropoda. Kitin merupakan polimer tak bercabang dengan berat molekul tinggi, yang termasuk dalam kategori polisakarida amino. Struktur kimianya sebagian besar terdiri dari unit-unit N-asetil-D-glukosamin yang saling terkait melalui ikatan β-(1,4). Secara umum, kitin tersusun dalam bentuk mikrofibril yang membentuk lembaran, di mana setiap mikrofibril tersusun sejajar satu sama lain, memberikan kekuatan dan stabilitas struktural pada organisme yang memilikinya.


- Selain kitin, kutikula serangga juga mengandung sklerotin, protein yang mengalami pengerasan sehingga membentuk struktur yang lebih keras pada eksokutikula;

- Resilin, komponen protein elastis, memungkinkan fleksibilitas tinggi karena memiliki rantai protein yang membentuk struktur tiga dimensi seperti karet. Resilin ini umumnya ditemukan di antara lamela kitin, pada dasar sayap, atau sebagai tendon elastis yang menghubungkan otot dan sayap serangga;

- Sementara itu, lime ditemukan pada beberapa larva akuatik Diptera, yang membantu dalam adaptasi lingkungan air.



Fungsi Integumen

Integumen memiliki peran penting dalam kesuksesan adaptasi serangga di berbagai lingkungan, fungsi integumen dianaranya mencakup:

- perlindungan organ internal;

- sebagai tempat perlekatan otot;

- mendukung aktivitas vital seperti makan, pergerakan, dan reproduksi;

- integumen berfungsi mencegah hilangnya air tubuh;

- menjaga dari ancaman (masuknya) patogen dan efek insektisida, sehingga melindungi serangga dari dehidrasi dan infeksi; 

- Integumen juga membantu serangga dalam menghindari predator; 

- Beberapa struktur internal, seperti sistem trakea, foregut, dan hindgut, berasal dari invaginasi integumen, menunjukkan peran integumen dalam pembentukan sistem tubuh;

- integumen mendukung saluran reproduksi internal yang tidak hanya menyalurkan gamet, tetapi juga menghasilkan sekresi yang berfungsi untuk  perlindungan dan membantu transmisi;

- Kelenjar ludah juga merupakan contoh struktur yang berasal dari integumen, berfungsi untuk memproduksi cairan penting bagi proses pencernaan dan interaksi lingkungan.


Molting 

Molting adalah proses alami yang dialami oleh banyak hewan, di mana mereka melepaskan lapisan kulit, bulu, atau eksoskeleton lama untuk digantikan dengan yang baru.


- Proses molting pada serangga melibatkan penggantian hampir seluruh kutikula lama yang hancur. 

- Pada tahap ini, cairan molting yang mengandung enzim kitinase dan proteinase disekresikan melalui saluran pori untuk membantu menghancurkan kutikula lama. 

Saat kutikula lama dilepaskan, kutikula baru yang terbentuk sangat lembut dan hampir tidak berwarna. Dalam waktu 1-2 jam setelahnya, kutikula baru akan mengalami pengerasan dan penggelapan. 



Proses Molting Terdiri Dari Beberapa Tahapan, Termasuk:

- apolysis (pemisahan epidermis dengan kutikula lama);

- ecdysis (pelepasan kutikula lama);

- pharate (keadaan kutikula baru sebelum ecdysis);

- Setelah ecdysis, kutikula lama yang terlepas disebut (exuvium);

- Pada tahap akhir, terjadi proses sklerotisasi yang menyebabkan kutikula mengeras secara kimiawi;

- diikuti oleh melanisasi yang menggelapkan warna kutikula baru.


Aspel Fisik Pada Molting

- Aspek fisik dalam proses molting pada serangga sangat dipengaruhi oleh tekanan darah dan atau tekanan udara yang membantu kontraksi tubuh selama molting. Pada beberapa serangga, udara dapat dimasukkan untuk menambah tekanan ini. Sebagai contoh, jika foregut pada nimfa kecoa tertusuk, maka molting tidak dapat berlangsung.

- Ecdysis, atau proses pelepasan kutikula lama, juga dipermudah oleh gravitasi, sehingga beberapa serangga akan menggantungkan diri secara terbalik selama proses ini. 

- Lalat memiliki struktur khusus di kepala yang disebut ptilinum, yang membantunya keluar dari pupa ketika mencapai fase dewasa, mempermudah transisi dari pupa ke serangga dewasa.

 


Kontrol Endokrin: Hormon Yang Terlibat

Kontrol endokrin memainkan peran penting dalam proses molting dan perkembangan serangga, dengan beberapa hormon utama yang berperan seperti:

- Juvenile hormone (JH), menentukan jenis perkembangan yang akan terjadi, seperti apakah serangga akan tetap dalam fase larva atau beralih ke fase dewasa. 

ecdysone yang selanjutnya menstimulasi proses molting. 

- Prothoracicotropic hormone (PTTH) merangsang pelepasan hormon ecdysone.

- Pada saat molting berlangsung, eclosion hormone berperan dalam menginduksi perilaku yang terkait dengan molting itu sendiri, membantu serangga dalam melepaskan kutikula lama. 

- Setelah kutikula baru terbentuk, hormon bursicon merangsang proses sklerotisasi atau pengerasan kutikula, sehingga kutikula menjadi lebih kuat dan tahan lama.


Kontrol Endokrin Pada Molting dan Perkembangan

Proses molting pada serangga dipengaruhi oleh interaksi hormon yang kompleks. 


- Hormon PTTH (Prothoracicotropic Hormone) berperan penting dalam merangsang sintesis dan pelepasan hormon ecdysone dari kelenjar prothoracica. 

-Ecdysone kemudian berfungsi sebagai induktor utama dalam proses molting, atau pergantian kulit pada serangga. 

- Selanjutnya, kadar hormon Juvenile Hormone (JH) dalam tubuh menentukan hasil dari proses molting tersebut. 

- Titer JH (mendeterminasi produk dari molting), dimana titer JH yang tinggi akan mempertahankan ciri-ciri juvenil pada serangga, sementara titer JH yang rendah memungkinkan serangga untuk bermetamorfosis ke tahap perkembangan berikutnya.

 

Hormon Lain Yang Terlibat  

Selain peran hormon-hormon utama dalam molting, ada hormon lain yang turut mempengaruhi proses-proses penting pada serangga. 

- Hormon bursicon, yang diproduksi oleh sel-sel neurosekretori di otak atau di bagian lain dari sistem saraf pusat, berperan dalam serangkaian aktivitas enzimatis pada kutikula yang menyebabkan pengerasan dan penggelapan. Hormon ini bekerja langsung pada sel-sel epidermis, membantu memperkuat dan melindungi kutikula baru setelah molting. 

- Selain itu, hormon eclosion, yang juga disekresikan oleh sel-sel neurosekretori, menginduksi proses eclosion atau pecahnya telur, yang memungkinkan serangga untuk keluar dari telur.


Share:

ANATOMI SERANGGA: Kepala (Cepal); Tipe Antena, Alat Mulut., Bagian-Bagian Thoraks., dan Abdomen.1

HEXAPODA (SERANGGA, INSEKTA)

Insect-insecure-in: menjadi- secare: memotong. Binatang yang badannya terdiri dari potongan-potongan (segmen)

Hexapoda = hexa : enam, podos : kaki. Artinya Hewan atau binatang berkaki enam

Secara umum dapat di simpulakan bahwa, serangga merupakan bagian dari kelas Hexapoda, yang artinya memiliki kaki 6 atau 3 pasang kaki, dan mereka memiliki tubuh yang terdiri dari segmen-segmen.

Struktur tubuh serangga diperkuat oleh sistem eksoskeleton, yang berfungsi sebagai perisai pelindung luar yang kokoh, menjadi dasar tubuh, serta tempat melekatnya otot-otot. Eksoskeleton ini juga berfungsi melindungi organ-organ internal dari kekeringan. Sistem ini terdiri dari kepingan keras yang disebut sklerit. Pada beberapa bagian dinding tubuh serangga terdapat membran lembut atau membran sklerit yang memungkinkan serangga untuk bergerak lebih fleksibel dan memungkinkan tubuhnya membesar, terutama saat proses makan dan meletakkan telur.

MORFOLOGI

Sekma Umum Dari Bagian Tubuh Serangga


KEPALA (Cepal): Mata, Antena, Mulut


Kepala serangga menunjukkan sedikit segmentasi sebagai hasil dari penggabungan segmen-segmen, yang umum dijumpai pada kepala serangga primitive (jenis serangga dengan struktur tubuh sederhana atau mirip dengan serangga purba/nenek moyang dalam evolusi). 
Kepala ini terspesialisasi untuk menjalankan beberapa fungsi penting seperti: makan, peraba, dan integrasi informasi. Fungsi ini memungkinkan serangga untuk merespons perubahan keadaan lingkungan di sekitarnya secara efektif, dengan bantuan berbagai organ sensorik yang terletak di kepala, seperti antena dan mata majemuk. 
Kepala serangga terbentuk oleh struktur yang disebut cranium, di mana terdapat berbagai komponen penting seperti mulut, antena, dan mata. Cranium ini adalah kapsul keras dengan bentuk yang bervariasi tergantung pada jenis serangga. Cranium terhubung dengan thoraks melalui suatu struktur yang mirip leher, disebut cervix. 
Posisi cranium pada serangga dapat berupa vertikal (hypognathous), horizontal (prognathous), atau miring (opisthognathous).

 

Orientasi Kepala Serangga (A) Hypognathous, (B) Prognthous, (C) Opisthognthous

 

Mata Pada Serangga

Ada dua jenis mata pada serangga, yaitu:

• mata majemuk (Compound eyes)

• Ocelli

Mata Majemuk (Compound eyes)

• Terletak di dekat mulut, berada di bagian anterior dari tubuh

• Berfungsi sebagai fotoreseptor

• Terdapat pada Serangga Dewasa dan Nimfa

• Terdiri dari Ommatidia

• Semakin banyak jumlah ommatidia maka akan semakin tepat penglihatan serangga.


Mata Sederhana (Ocelli)


Antena Pada Serangga

Semua serangga memiliki antena, meskipun pada fase larva, antena ini biasanya mengalami reduksi. Antena terdiri dari tiga bagian utama: bagian dasar yang disebut scape, pedicel sebagai penghubung, dan bagian ujung atau flagellum yang umumnya terdiri dari beberapa subsegmen. Bentuk antena dapat bervariasi tergantung pada fungsinya. Pada serangga jantan, struktur antena cenderung lebih kompleks karena berperan dalam mendeteksi bau dari serangga betina. Sebagai organ sensorik utama, antena memiliki peran penting dalam membantu serangga mengenali lingkungannya. Biasanya, antena ini juga dilengkapi dengan sensilla, yaitu struktur kecil yang berfungsi mendeteksi rangsangan tertentu.

 

Berikut bentuk dan bagian-bagian dari antenna serangga


Mulut Pada Serangga

Bentuk paling primitif dari alat mulut serangga adalah alat mulut yang berfungsi sebagai pengunyah makanan. Contohnya dapat ditemukan pada serangga seperti belalang dan kumbang. Alat mulut ini terdiri dari beberapa bagian utama, yaitu satu labrum, sepasang mandibula, sepasang maksila, dan satu labium. Labrum berfungsi sebagai bibir atas yang melindungi bagian-bagian lainnya, sementara mandibula berfungsi sebagai alat penggigit dan pengunyah makanan solid. Maksila membantu dalam memegang dan memanipulasi makanan, dan labium berperan sebagai bibir bawah yang menutup bagian mulut dari arah bawah.

Berikut Bentuk dan Contoh Mulut Pada Serangga


DADA (THORAX)

Dada serangga merupakan tempat melekatnya kaki dan sayap. Setiap ruas dada dilengkapi dengan sepasang kaki yang berfungsi sebagai alat gerak. Bagian dada terbagi menjadi tiga segmen utama, yaitu prothorax, mesothorax, dan metathorax. Pada segmen mesothorax terdapat sepasang sayap depan (forewing), sedangkan pada segmen metathorax terdapat sepasang sayap belakang (hindwing). Kedua segmen ini dikenal secara bersama sebagai pterothorax.

Setiap segmen pada thoraks serangga dibangun dari lapisan keras yang memberikan perlindungan dan struktur pada tubuh. Lapisan ini terbagi menjadi beberapa bagian: bagian atas disebut Notum, berfungsi melindungi area punggung; bagian bawah disebut Sternum, yang melindungi bagian perut; dan bagian samping disebut Pleura, yang menghubungkan dan melindungi sisi tubuh serangga. Struktur ini memungkinkan thoraks menjadi kokoh, mendukung pergerakan, dan melindungi organ-organ internal serangga dari benturan dan ancaman luar.

Pronotum

Pronotum adalah bagian dorsal atau punggung dari sklerit yang terdapat pada protoraks serangga, yang sering kali mengalami modifikasi sesuai dengan kebutuhan dan fungsi tertentu. Modifikasi pada pronotum ini dapat bervariasi antara spesies, seperti berkembang menjadi pelindung tambahan atau membentuk struktur yang membantu dalam kamuflase. 

 


Sayap Pada Serangga

Sayap serangga terdiri dari dua pasang yang terbentuk dari helaian kulit sederhana. Gerakan sayap ini dihasilkan oleh otot yang melekat pada dasar sayap di dinding badan. Ukuran dan kepakan sayap menentukan kecepatan terbang serangga. Serangga kecil hingga sedang biasanya memiliki kepakan sayap yang lebih cepat per detiknya.

Bentuk sayap juga dijadikan sebagai salah satu karakteristik utama dalam klasifikasi serangga, di antaranya ada seperti:

Diptera (lalat) dengan satu pasang sayap; 

Coleoptera (kumbang) dengan sayap penutup; 

Lepidoptera (kupu-kupu) dengan sayap bersisik; 

Hymenoptera (lebah) dengan sayap selaput; 

Hemiptera (kutu busuk) dengan sayap setengah; 

Orthoptera (belalang) dengan sayap lurus.


Berikut Bentuk dan Contoh Sayap Pada Serangga


Kaki Pada Serangga

Berikut Struktur dan Fungsi Pada Kaki Serangga


PERUT (Abdomen)

Abdomen pada serangga terdiri dari 11 hingga 12 ruas dan tidak memiliki kaki. Pada ruas ke-11, terdapat tambahan struktur berupa sepasang cerci yang menyerupai antena sederhana dan terdiri dari 2 hingga 3 segmen. Cerci ini juga memiliki fungsi dalam proses kopulasi. Di bagian ujung segmen ke-12 terdapat struktur yang dikenal sebagai telson atau periproct yang berfungsi sebagai anus. Alat reproduksi pada serangga betina terletak di bagian bawah ventral segmen ke-7 dan ke-8, sedangkan alat reproduksi pada serangga jantan berada di batas belakang segmen ke-9 pada bagian ventral

Pada abdomen serangga, mirip dengan thoraks, setiap segmen terdiri dari tergum dan sternum yang saling terhubung oleh membran di bagian samping. Pada ujung segmen terdapat sepasang organ sensorik yang disebut cerci. Selain sebagai alat sensor, cerci juga berperan dalam proses kopulasi.

Struktur reproduksi pada serangga betina dan jantan tumbuh dari segmen kedelapan dan kesembilan pada abdomen. Pada betina, struktur reproduksi ini disebut ovipositor, yaitu organ yang digunakan untuk meletakkan telur, sedangkan pada jantan disebut aedeagus, yang berfungsi sebagai organ kopulatori. Kedua organ reproduksi ini sering kali dijadikan penanda dalam proses identifikasi spesies.

 



Share:

Blogger news

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

Cari Blog Ini